Kamis, 19 November 2015

makalah estetika klasik barat kelompok 4



BAB I
PENDAHULUAN
1.1             Latar Belakang

Mempelajari pengetahuan tentang keindahan dalam sebuah seni sangat di perlukan bagi seorang pelajar, seni sangat menarik untuk di pelajari selain karena keindahan nya seni juga bisa menghasilkan keuntungan jika seseorang mempunyai bakat seni. Contohnya seseorang yang memiliki bakat seni lukis, mereka bisa membuat suatu lukisan yang indah dan akhirnya mempunyai nilai jual. Lukisan sendiri adalah salah satu keindahan seni yang merupakan hasil coretan-coretan yang menghasilkan gambar dan memiliki suatu makna di setiap bagiannya . Selain lukisan keindahan seni juga dapat disalurkan dalam karya sastra. Keindahan merupakan sifat dan ciri orang, hewan , tempat, objek, atau gagasan yang memberikan pengalaman persepsi kesenangan, bermakna atau kepuasan.
Keindahan itu suatu konsep abstrak yang tidak dapat dinikmati karena tidak jelas, keindahan itu baru jelas jika telah dihubungkan dengan suatu yang berwujud atau suatu karya.keindahan identik dengan kebenaran, keindahan merupakan kebenaran dan kebenaran adalah keindahan, keduanya mempunyai nilai yang sama yaitu abadi dan mempunyai daya tarik yang selalu bertambah. Manusia memiliki sensibilitas esthetis, karena itu manusia tak dapat dilepaskan dari keindahan. Teori keindahan subjektif akan sulit menjawab persoalan yang baru muncul, mengapa kita senang terhadap sesuatu. Hal ini akan tergantung pada diri penikmatnya dengan berbagai keunikan pengalaman batinnya yang berbeda dengan penikmat yang lain.




1.2            Perumusan Masalah
a.       Apa Pengertian Dari Keindahan Dalam Seni ?
b.      Bagaimana sejarah estetika klasik barat ?
c.       Apa yang dimaksud dengan “seni adalah mimeses” ?

1.3            Tujuan
a.     Mengetahui pengertian keindahan dalam seni
b.     Mengetahui sejarah tentang estetika klasik barat
c.      Dapat memahami pengertian tentang seni adalah mimeses















BAB II
PEMBAHASAN

2.1  Pengertian Keindahan Dalam Seni
Keindahan berasal dari kata Indah, Keindahan adalah sifat dari sesuatu yang memberi kita rasa senang bila melihatnya. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, keindahan diartikan sebagai keadaan yang enak dipandang, cantik, bagus benar atau elok. Keindahan dipelajari sebagai bagian dari estetika, sosiologi, psikologi sosial, dan budaya. Sebuah “kecantikan yang ideal” adalah sebuah entitas yang dikagumi, atau memiliki fitur yang dikaitkan dengan keindahan dalam suatu budaya tertentu, untuk kesempurnaannya.
Keindahan (beauty) merupakan pengertian seni yang telah diwariskan oleh bangsa yunani dahulu, plato misalnya menyebutkan tentang watak yang indah dan hukuman yang indah. Aristoteles merumuskan keindahan sebagai suatu yang baik dan menyenangkan. Plotinus menulis tentang ilmu yang indah dan kebijakan yang indah. Bangsa Yunani juga mengenal kata keindahan dalam arti estetis yang disebutnya “symmetria” untuk keindahan visual, dan harmonia untuk keindahan berdasarkan pendengaran (auditif). Jadi pengertian keindahan secara luas meliputi keindahan seni, alam, moral, dan intelektual.

Herbert Read dalam bukunya The Meaning Of Art merumuskan keindahan sebagai suatu kesatuan arti hubungan – hubungan bentuk yang terdapat di antara pencerapan-pencerapan indera kita. Thomas Aquinas merumuskan keindahan sebagai suatu yang menyenangkan bila dilihat.
Kant secara eksplisit menitikberatkan estetika kepada teori keindahan dan seni. Teori keindahan adalah dua hal yang dapat dipelajari secara ilmiah maupun filsafati. Di samping estetika sebagai filasafat dari keindahan , ada pendekatan ilmiah tentang keindahan.  Yang pertama menunjukkan indentitas obyek artistik, yang kedua obyek keindahan.
Ada dua teori tentang keindahan, yaitu yang bersifat subyektif dan obyektif.
a.       Keindahan subyektif adalah keindahan yang ada pada mata yang memandang .
b.      Keindahan obyektif adalah menempatkan keindahan pada benda yang dilihat.
Definisi keindahan tidak mesti sama dengan definisi seni, atau berarti seni tidak selalu dibatasi oleh keindahan. Menurut kaum empiris dari jaman Barok, permasalahan seni ditentukan oleh reaksi pengamatan terhadap karya seni,. Perhatian terletak pada penganalisisan terhadap rasa seni, rasa indah, dan rasa keluhuran (keagungan). Reaksi atas

intelektualisme pada akhir abad ke -19 yang dipelopori oleh John Ruskin dan William Moris adalah mengembalikan peranan seni (ingat kelahiran gerakan Bauhaus yang terlibat pada perkembangan seni dan industri di Eropa).
Dari pandangan tersebut jelas bahwa permasalahan seni dapat diselidiki dari tiga pendekatan yang berbeda tetapi yang saling mengisi. Di satu pihak menekankan pada penganalisisan obyektif dari benda seni, di pihak lain pada upaya subyektif pencipta dan upaya subyektif dari apresiator. Bila mengingat kembali pandangan klasik (Yunani) tentang hubungan seni dan keindahan , maka kedua pendapat ahli di bawah ini sangat mendukung hubungan tersebut, sortais menyatakan bahwa keindahan ditentukan oleh keadaan sebagai sifat obyektif dari bentuk (I’esthetique est la science du beau) , lipps berpendapat bahwa keindahan di tentukan oleh keadaan perasaan subyektif atau pertimbangan selera (die kunst ist die geflissenliche hervorbringung des schones) dan hubungan-hubungan bentuk yang terdapat diantara pencerapan-pencerapan indrawi manusia.
2.2 Keindahan Dalam Sebuah Seni Kehidupan

Keindahan biasanya diartikan sebagai sesuatu yang indah, tak ada cacat celanya, bersih, mulus, mempesona sempurna, mengagumkan, lainya, memiliki daya tarik, dan sebagainya.itulah inti kesan tentang keindahan yang tercetus melalui desah ucapan; oh, alangkah indahnya dan lain- lain. Benda yang mempunyai sifat indah ialah segala hasil seni, pemandangan alam, manusia, rumah, tatanan, perabot rumah tangga, suara warna, dan sebagainya. Karena itu keindahan dapat dikatakan, bahwa keindahan merupakan bagian dari hidup manusia. Keindahan tak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Keindahan juga bersifat universal, artinya tidak terikat oleh selera perseorangan, waktu dan tempat, selera mode, kedaerahan atau lokal.

Perbedaan antara Keindahan sebagai suatu Kualitas Abstrak dan sebagai Sebuah Benda Tertentu yang Indah.Keindahan sebagai suatu kualitas abstrak (Beauty as an abstract quality) menggambarkan sesuatu yang kontemporer dan bersifat nonrealistic di mana sang pencipta karya menggambarkan sesuatu yang tidak bisa dimengerti secara umum dan tidak sesuai dengan realita. Keindahan sebagai kualitas abstrak menggambarkan suatu bentuk dalam yang keindahan di mana keindahan tersebut bersifat eksklusif dan hanya dapat dimengerti oleh orang yang menciptakan keindahan tersebut berdasarkan apa yang dipahaminya.

Keindahan itu suatu konsep abstrak yang tidak dapat dinikmati karena tidak jelas. Keindahan itu baru jelas jika telah dihubungkan dengan sesuatu yang berwujud atau suatu karya. Dengan kata lain keindahan itu baru dapat dinikmati jika dihubungkan dengan suatu bentuk.
Menurut cakupannya orang harus membedakan keindahan sebagai suatu kualitas abstrak dan sebagai sebuah benda tertentu yang indah.

Sedangkan keindahan sebagai sebuah benda tertentu yang indah adalah keindahan yang memiliki konsep pemahaman dan nilai yang berbeda dengan kualitas abstrak di mana benda yang dimaksud dalam hal ini adalah sesuatu yang mewakili keindahan secara umum dan dapat dengan mudah diterima maupun dipahami oleh masyarakat.

Keindahan dalam arti luas merupakan pengertian semula dari bangsa yunani dulu yang didalamnya tercakup pula kebaikan. Dalam arti estetis keindahan bias berdasarkan penglihatan, pendengaran. Dari itu dapat disimpulkan, bahwa keindahan tersusun dari berbagai keselarasan dan kebaikan dari garis, warna, bentuk, nada dan kata-kata. Ada pula yang berpendapat, bahwa keindahan adalah suatu kumpulan hubungan-hubungan yang selaras dalam suatu benda dan diantara benda itu dengan si pengamat.

Oleh karena itu keindahan identik dengan kebenaran. Keindahan merupakan kebenaran dan kebenaran adalah keindahan. Keduanya mempunyai nilai yang sama yaitu abadi, dan mempunyai daya tarik yang selalu bertambah. Sesuatu yang tidak mengandung kebenaran berarti tidak indah. Karena itu hanya tiruan lukisan Monalisa yang tidak indah, karena dasarnya tidak benar. Sudah tentu kebenaran disini bukan kebenaran ilmu, melainkan kebenaran menurut konsep dalam seni. Dalam seni, seni berusaha memberikan makna sepenuh-penuhnya mengenai obyek yang diungkapkan.
2.3 Estetika  Klasik Barat, Seni Adalah Mimesis
Estetika baru muncul abad ke -18 dan sejarah yang mengenai hal-hal yang mengacu pada estetika adalah setua sejarah etika, logika, metafisika, dan epistemology. Estetika membahas tentang apa itu keindahan, menyelidiki prinsip-prinsip landasan seni dan pengalaman seni yakni penciptaan seni, penilaian atau refleksi atas karya seni. pemikiran tokoh-tokoh estetika pada masa Yunani klasik, tokoh-tokoh yang di bahas adalah mulai dari Sokrates, Plato, dan Aristoteles.
Dalam perkembangan seni, konsepsi rasionalitas sering dibicarakan sebagai suatu hal yang berasal dari kebudayaan barat. Konsep rasionalitas dalam perkembangan seni ini bermula ketika digunakannya konsep yang terlihat oleh mata dijadikan dasar dalam mengolah bentuk-bentuk seni (reproduksi alam). Pandangan seni yang berusaha untuk menggambarkan alam sekitar dengan tertib ini bermula di Yunani pada sekitar abad keenam sebelum masehi (bersamaan waktu perpindahan kedua nenek moyang orang Indonesia dari Yunan Asia Tenggara). Seni bagi orang Yunani pada masa itu adalah tiruan alam atau disebut “mimesis”.
2.4 Seni Adalah Mimeses
Mimesis merupakan salah satu wacana yang ditinggalkan Plato dan Aristoteles sejak masa keemasan filsafat Yunani Kuno, hingga pada akhirnya Abrams memasukkannya menjadi salah satu pendekatan utama untuk menganalisis seni selain pendekatan ekspresif, pragmatik dan objektif. Mimesis merupakan ibu dari pendekatan sosiologi seni yang darinya dilahirkan puluhan metode kritik seni yang lain.
Mimesis berasal  bahasa Yunani yang berarti tiruan. Dalam hubungannya dengan kritik sastra mimesis diartikan sebagai pendekatan sebuah pendekatan yang dalam mengkaji karya sastra selalu berupaya untuk mengaitkan karya sastra dengan realitas atau kenyataan. Perbedaan pandangan Plato dan Aristoteles menjadi sangat menarik karena keduanya merupakan awal filsafat alam, merekalah yang menghubungkan antara persoalan filsafat dengan kehidupan.
Banyak contoh yang dapat diambil dari seni lukis yunani purba atau lebih-lebih lagi seni patungnya. Bagi orang-orang Yunani seni adalah tiruan alam atau “mimesis” (dari kata “mimic”, seasal dengan istilah “mimicry” dalam ilmu hayat) yang disebut oleh Aristoteles, “..omnis ars nature imitation est”
·         Pandangan Plato dan Aristoteles Mengenai Mimemesis
Pandangan Plato mengenai mimesis sangat dipengaruhi oleh pandangannya mengenai konsep Idea-idea yang kemudian mempengaruhi bagaimana pandangannya mengenai seni.
Plato menganggap Idea yang dimiliki manusia terhadap suatu hal merupakan sesuatu yang sempurna dan tidak dapat berubah. Idea merupakan dunia ideal yang terdapat pada manusia. Idea oleh manusia hanya dapat diketahui melalui rasio,tidak mungkin untuk dilihat atau disentuh dengan panca indra. Idea bagi Plato adalah hal yang tetap atau tidak dapat berubah,  misalnya idea mengenai bentuk segitiga, ia hanya satu tetapi dapat ditransformasikan dalam bentuk segitiga yang terbuat dari kayu dengan jumlah lebih dari satu . Idea mengenai segitiga tersebut tidak dapat berubah, tetapi segitiga yang terbuat dari kayu bisa berubah (Bertens1979:13).
Berdasarkan pandangan Plato mengenai konsep Idea tersebut, Plato sangat memandang rendah seniman dan penyair dalam bukunya yang berjudul Republic bagian kesepuluh. Bahkan ia mengusir seniman dan sastrawan dari negerinya. Karena menganggap seniman dan sastrawan tidak berguna bagi Athena, mereka dianggap hanya akan meninggikan nafsu dan emosi saja. Pandangan tersebut muncul karena mimesis yang dilakukan oleh seniman dan sastrawan hanya akan menghasilkan khayalan tentang kenyataan dan tetap jauh dari ‘kebenaran’. Seluruh barang yang dihasilkan manusia menurut Plato hanya merupakan copy dari Idea, sehingga barang tersebut tidak akan pernah sesempurna bentuk aslinya (dalam Idea-Idea mengenai barang tersebut). Sekalipun begitu bagi Plato seorang tukang lebih mulia dari pada seniman atau penyair. Seorang tukang yang membuat kursi, meja, lemari dan lain sebagainya mampu menghadirkan idea ke dalam bentuk yang dapat disentuh panca indra. Sedangkan penyair dan seniman hanya menjiplak kenyataan yang dapat disentuh panca indra (seperti yang dihasilkan tukang), mereka oleh Plato hanya dianggap menjiplak dari jiplakan .
Menurut Plato mimesis hanya terikat pada ide pendekatan. Tidak pernah menghasilkan kopi sungguhan, mimesis hanya mampu menyarankan tataran yang lebih tinggi. Mimesis yang dilakukan oleh seniman dan sastrawan tidak mungkin mengacu secara langsung terhadap dunia ideal.  (Teew.1984:220). Hal itu disebabkan pandangan Plato bahwa seni dan sastra hanya mengacu kepada sesuatu yang ada secara faktual seperti yang telah disebutkan di muka. Bahkan seperti yang telah dijelaskan di muka, Plato mengatakan bila seni hanya menimbulkan nafsu karena cenderung menghimbau emosi, bukan rasio (Teew. 1984:221).
Aristoteles adalah seorang pelopor penentangan pandangan Plato tentang mimesis, yang berarti juga menentang pandangan rendah Plato terhadap seni. Apabila Plato beranggapan bahwa seni hanya merendahkan manusia karena menghimbau nafsu dan emosi, Aristoteles justru menganggap seni sebagai sesuatu yang bisa meninggikan akal budi. Teew (1984: 221) mengatakan bila Aristoteles memandang seni sebagai katharsis, penyucian terhadap jiwa. Karya seni oleh Aristoteles dianggap menimbulkan kekhawatiran dan rasa khas kasihan yang dapat membebaskan dari nafsu rendah penikmatnya.

Aristoteles menganggap seniman dan sastrawan yang melakukan mimesis tidak semata-mata menjiplak kenyataan, melainkan sebuah proses kreatif untuk menghasilkan kebaruan. Seniman dan sastrawan menghasilkan suatu bentuk baru dari kenyataan indrawi yang diperolehnya. Dalam bukunya yang berjudul Poetica (via Luxemberg.1989:17), Aristoteles mengemukakakan bahwa sastra bukan copy (sebagaimana uraian Plato) melainkan suatu ungkapan mengenai “universalia” (konsep-konsep umum). Dari kenyataan yang menampakkan diri kacau balau seorang seniman atau penyair memelih beberapa unsur untuk kemudian diciptakan kembali menjadi ‘kodrat manusia yang abadi’, kebenaran yang universal. Itulah yang membuat Aristoteles dengan keras berpendapat bahwa seniman dan sastrawan jauh lebih tingi dari tukang kayu dan tukang-tukang lainnya.
http://beatroom.blog.friendster.com/2005/07/film-imitasi-kehidupan diakses 19/06/2009

1.      Estetika Sokrates
Fondamen Sokrates yang meletakkan batu pertama dari estetika (sebelum nama ini diberi nama). Dalam perdebatan antara sokrates dan Happias sokrates meminta ide keindahan “gagasan umum” yang menyebutkan semua barang indah menjadi indah, Sokrates tidak menanyakan apa yang bersifat indah.

Happias menambahkan bahwa sendokpun bisa jadi indah, akan tetapi kita tidak dapat mengartikan sama cantiknya seperti benda dan gadis dara. Sokrates member bumbu kepada perkataan Happias: “memang Heraklatus pernah mengatakan bahwa kera yang tercantik, jika dibandingkan dengan orang maka ia masih jelek. Demikian juga dengan gadis cantik, bukan apa-apa kalau dibandingkan dengan bidadari dari sorga, sebagaimana orang yang paling arif bijaksana. 
apabila dibandingkan dengan Tuhan, tentu masih tanpak kera dalam segala hal. Akan tetapi kita kembali kepada: What the beautiful is. Walaupun catatan yang diberikan oleh sokrates tidak sistematis, estetika telah lahir ketika sokrates dapat menjawab pertanyaan Happias, dengan perkataan kecantikan bukanlah sifat tertentu dari seribu barang, tetapi dibelakang semua itu terdapat kecantikan itu tersendiri.

2. Estetika Plato
Plato adalah filusuf pertama didunia barat yang dalam seluruh karyanya mengemukakan pandangan yang meliputi hamper semua pokok semua estetika. Pembahasannya tidak utuh dan merupakan suatu system tersendiri, tetapi tersebar sebar dalam karyanya. Berikut ini kita mengumpulkan dan menyingkatkan pandangannya keindahan dan karya seni. 
a). Keindahan 
Plato berpendapat bahwa untuk mengetahui keindahan sesungguhnya, kita terlebih dahulu mengosongkan pikiran dan membersihkan diri dari segala kesalahan dan kekurangan. Kita harus membuang kesalahan dan dosa yang pernah terjadi dan mencoba kembali kedalam kesucian jiwa kita. 

Keindahan dapat dibagi menjadi dua yang pertama tentang dunia idea, dan kedua dunia yang nyata. Pandangan yang pertama, secara mengesankan dan dengan bahasa yang sangat indah, ia kemukakan dalam wawancara semposium sebagi pendirian Socrates. Socrates mengatakan bahwa ajaran itu diterima dari seorang dewata bernama Diotima yang berasal dari Mantineia (dalam terjemahan inggris nama dewata itu adalah “fear the lord from prophetveille”, sesuai dengan sindiran yang termuat dalam bahasa yunani). Menurut pandangan itu, yang indah adalah benda yang material, umpamanya tubuh manusia, yang tampak pada saya. Kalau selanjutnya saya melihat beberapa orang seperti itu, pengalaman akan keindahan meningkat. Lebih jauh lagi manusia merasa diajak untuk ingat pada yang lebih indah daripada tubuh, yaitu jiwa lama kelamaan, socrtaes mengajak pendengar untuk maju terus sampai pada idea yang indah. Itulah yang paling indah, sumber segala keindahan. Semua keindahan lain haknya ikut ambil pada yang indah dalam dunia idea itu, sama halnya seperti idea kebenaran, kebaikan, ataupun segitiga.

Pandangan plato yang pertama didasarkan pada ajaran tentang idea ini, yakni “teori dua dunia”. Dua dunia tersebut adalah ‘dunia idea’ (dunia atas) dan “dunia sehari-hari” (dunia bawah). Menurut plato dunia bawah merupakan tiruan dari dunia atas. Dunia atas digambarkan sebagai dunia idea, yaitu: dunia kebenaran absolute, sejati, dunia rohani, pengetahuan sejati (episteme). Sedangkan dunia bawah adalah dunia yang relative, sehari-hari, fana, kebenaran relative, tiruan, dan hanya merupakan ‘pendapat’. Pandangan kedua, dikemukakan plato dalam salah satu dialognya yang terkenal, yakni phiilebus. Disini dinyatakan bahwa yang indah dan sumber segala keindahan adalah yang paling sederhana. Yang dimaksud sederhana adalah bentuk dan ukuran yang tidak dapat diberi batasan yang lebih sederhana lagi. Pada pandangan pertama, yang indah itu dilepaskan dari pengalaman jasmani. Keindahan dalam pengertian hidup sehari-hari adalah tingkat dua saja. Keindahan sesungguhnya hanya ada di dunia idea, sedangkan pandanagn plato yang kedua, yang indah itu tidak dilepaskan dari pengalaman inderawi yang membangun pengalaman estetis dan keindahan dalam pengertian sehari-hari. 

Pandangan yang kedua ada dalam Philebus. Disana dinyatakan bahwa yang indah dan sumber segala keindahan adalah yang paling sederhana, umpamanya nada yang paling sederhana, warna yang sederhana. Yang dimaksud dengan ‘sederhana’ ialah bentuk dan ukuran yang tidak dapat diberi batasan lebih lanjut berdasarkan sesuatu yang lebih sederhana lagi. Oleh karena itu keindahan bersifat terpilah-pilah baik dalam alam maupun dalam karya seni.

Pandangan plato yang kedua ini mempunyai keistimewaan karena tidak melepaskan diri dari pengalaman inderawi yang merupakan unsure konstitutif dari pengalaman estetis dan keindahan dalam pengertian sehari-hari. 
1). Paradigma: dunia atas menjadi contoh, prototype, pola, bagi dunia bawah. 
2). Hadir pada: dunia atas selalu hadir pada (presence) dunia bawah. 
3). Partisipasi: dunia bawah mengambil bagian (berpartisipasi) di dunia atas

b). Karya Seni. 
Plato menyatakan sikapnya terhadap karya seni, terutama dalam karyanya yang terbesar yaitu politea (republik). Dalam penilaiannya ada dua unsur: yang satu teoritis dan kedua praktis. 
Unsur teoritis menyatakan bahwa: segala kenyataan yang ada di dunia ini merupakan tiruan (mimesis) dari yang asli yang terdapat di dunia idea dan jauh lebih unggul daripada kenyataan di dunia ini. Karya seni merupakan tiruan dari (mimesis memeseos). Oleh karena itu plato menilai rendah karya seni. Tafsiran plato tentang karya seni sebgai tiruan dari kenyataan yang ada di dunia ini tidak hanya jauh dari pandanagn karya seni dewasa ini, tetapi sudah pada jaman plato dan dalam karyanya sendiri mengalami kesulitan, mungkin karya seni rupa dan sebagian karya sastra, bisa ditafsirkan sebagai tiruan dari kenyataan, tetapi karya seni music amat sulit di tafsirkan.

Jadi menurut plato, karya seni adalah tiruan dari kenyataan yang ada di dunia ini (kecuali music), jadi jauh dari kebenaran sejati. Itulah sebabnya kemapa ia menyebut karya seni sebagai tiruan dari (mimesis memeseos). Plato memiliki dua kebertan terhadap karya seni. Pertama, karena karya seni menirukan sesuatu di dunia ini, yang sebenarnya sudah merupakan tiruan dari dunia idea. Jadi, karya seni adalah tiruan dari tiruan artinya tiruan dua tingkat. Itulah sebabnya mengapa menurut Plato, seni tidak baik untuk dijadikan sebagai sumber pengetahuan. 

Bagi plato, hanya filsafatlah yang pantas menjadi sumber pengetahuan, kebijakan dan moral. 

Keberatan plato terhadap seni terkait dengan pengaruh buruk seni terhadap masarakat. Seni memberi pengaruh bagi penonton dan masarakat. Mengapa? Karena, hakikat seni bersifat emosional. Plato menantang karya sastra dan drama, karena dalam drama banyak terdapat adegan adegan yang kurang baik dipertontonkan dan akan menjauhkan warga Negara dari tugasnya membangun Negara. Baginya, pusi itu prosesnya irasional dan kurang control terhadap akal, sehingga akan member pengaruh buruk pada penontonnya.

3. Estetika Aristoteles 
Sebagai murid plato, Aristoteles mengemukakan beberapa pandangan yang mirip dengan ajaran sang guru, tetapi sudut pandangnya berbeda. Mengapa? Karena Aristoteles menolak dunia idea Plato sebagai sumber pengetahuan. Sumbangan utama Aristoteles bagi estetika diuraikan dalam buku Poetika (poetics). 
a). Keindahan 
Pandangan Aristoteles tentang keindahan agak dekat dengan pandangan kedua dari plato: keindahan menyangkut keseimbangan dan keteraturan ukuran, yakni ukuran material. Pandangan ini, menurut Aristoteles menyangkut benda-benda alam maupun untuk karya seni buatan manusia

b). Karya Seni. 
Pandangan Aristoteles tentang ini mirip dengan Plato: karya seni adalah sebuah tiruan (imitasi), yakni tiruan dari dunia alamiah dan dunia manusia. Bagi Aristoteles, seni tidak hanya tiruan dari benda yang ada dari alam, tetapi lebih sebagai tieuan dari sesuatu yang universal. Aristoteles tidak setuju dengan penilaian negative Plato atas karya seni, karena dia berpendapat bahwa bentuk-bentuk (form) tidak terpisah dari dunia inderawi, karenanya dia tidak memiliki keberatan terhadap dunia inderawi dan seni yang meniru dunia inderawi. Maksud ini sudah jelas, karena pertam-tama minat aristoteles bukan seni rupa melainkan seni drama dan musik.

Aristoteles cukup panjang lebar memeriksa dan memerinci segala syarat yang harus dipenuhi agar suatu tragedi menjadi karya seni yang sempurna. Yang sangat diperhatikan adalah pandangan pokok Aristoteles yang mendasari syarat-syarat itu, yaitu pandangannya tentang “khatarsis” artinya pemurnian, yang diasalkan dari kata “khatarus” artinya murni atau bersih. Menurut Aristoteles, khatarsis adalah puncak dan tujuan karya seni drama dalam bentuk tragedi. Segala peristiwa, pertemuan, wawancara, keberhasilan, dan kegagalan serta kekecewaan harus di susun dan dipentaskan sedemikian rupa sehingga pada suatu saat secara serentak semuanya tampak logis, tetapi juga seolah-olah tak terduga. Pada saat itulah khatarsis terjadi secara tiba-tiba: seakan-akan segala masalah dan kejadian yang muncul bertimbun dalam peran-peran utama dan dalam diri penonton tiba-tiba pecah atau mencair, tak jarang in terjadi secara mengharukan.

Teori khatarsis Aristoteles ini sangat berpengaruh dalam filsafat seni, terutama dalam teori drama. Biasanya khatarsis diharapkan terjadi pada diri penonton dan kemudian dibawanya pulang sebagai pemahaman yang lebih mendalam tentang manusia, sebagai pembebasan batin sebagai pengalaman penderitaan. Dengan demikian, khatarsis ini memiliki makna “terapeutik”, bahkan sering sekali terdapat unsure penyesalan dan perubahan, semacam pencerahan atau pertobatan dalam pengalaman religius.
BAB III
KESIMPULAN

a.     Kesimpulan
Keindahan adalah sifat dari sesuatu yang memberi kita rasa senang bila melihatnya. Definisi keindahan tidak mesti sama dengan definisi seni, atau berarti seni tidak selalu dibatasi oleh keindahan. permasalahan seni ditentukan oleh reaksi pengamatan terhadap karya seni,. Perhatian terletak pada penganalisisan terhadap rasa seni, rasa indah, dan rasa keluhuran (keagungan). Sedangkan Estetika membahas tentang apa itu keindahan, menyelidiki prinsip-prinsip landasan seni dan pengalaman seni yakni penciptaan seni, penilaian atau refleksi atas karya seni.

b.    Saran
Saran kami tujukan kepada pembuat makalah berikutnya , kami sadar makalah kami belum sempurna tanpa kritik dan saran dari pembaca.






                                                  



DAFTAR PUSTAKA


Tidak ada komentar:

Posting Komentar