BAB
I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Mempelajari pengetahuan tentang
keindahan dalam sebuah seni sangat di perlukan bagi seorang pelajar, seni
sangat menarik untuk di pelajari selain karena keindahan nya seni juga bisa
menghasilkan keuntungan jika seseorang mempunyai bakat seni. Contohnya seseorang
yang memiliki bakat seni lukis, mereka bisa membuat suatu lukisan yang indah
dan akhirnya mempunyai nilai jual. Lukisan sendiri adalah salah satu keindahan
seni yang merupakan hasil coretan-coretan yang menghasilkan gambar dan memiliki
suatu makna di setiap bagiannya . Selain lukisan keindahan seni juga dapat
disalurkan dalam karya sastra. Keindahan merupakan sifat dan ciri orang, hewan
, tempat, objek, atau gagasan yang memberikan pengalaman persepsi kesenangan,
bermakna atau kepuasan.
Keindahan itu suatu konsep abstrak
yang tidak dapat dinikmati karena tidak jelas, keindahan itu baru jelas jika
telah dihubungkan dengan suatu yang berwujud atau suatu karya.keindahan identik
dengan kebenaran, keindahan merupakan kebenaran dan kebenaran adalah keindahan,
keduanya mempunyai nilai yang sama yaitu abadi dan mempunyai daya tarik yang
selalu bertambah. Manusia memiliki sensibilitas esthetis, karena itu manusia
tak dapat dilepaskan dari keindahan. Teori keindahan subjektif akan sulit
menjawab persoalan yang baru muncul, mengapa kita senang terhadap sesuatu. Hal
ini akan tergantung pada diri penikmatnya dengan berbagai keunikan pengalaman
batinnya yang berbeda dengan penikmat yang lain.
1.2
Perumusan
Masalah
a.
Apa Pengertian Dari Keindahan Dalam Seni
?
b.
Bagaimana sejarah estetika klasik barat
?
c.
Apa yang dimaksud dengan “seni adalah
mimeses” ?
1.3
Tujuan
a. Mengetahui
pengertian keindahan dalam seni
b. Mengetahui
sejarah tentang estetika klasik barat
c. Dapat
memahami pengertian tentang seni adalah mimeses
BAB II
PEMBAHASAN
2.1
Pengertian Keindahan Dalam Seni
Keindahan berasal dari kata Indah, Keindahan adalah
sifat dari sesuatu yang memberi kita rasa senang bila melihatnya. Dalam Kamus
Besar Bahasa Indonesia, keindahan diartikan sebagai keadaan yang enak
dipandang, cantik, bagus benar atau elok. Keindahan dipelajari sebagai bagian
dari estetika, sosiologi, psikologi sosial, dan budaya. Sebuah “kecantikan yang
ideal” adalah sebuah entitas yang dikagumi, atau memiliki fitur yang dikaitkan
dengan keindahan dalam suatu budaya tertentu, untuk kesempurnaannya.
Keindahan (beauty) merupakan pengertian seni yang
telah diwariskan oleh bangsa yunani dahulu, plato misalnya menyebutkan tentang
watak yang indah dan hukuman yang indah. Aristoteles merumuskan keindahan
sebagai suatu yang baik dan menyenangkan. Plotinus menulis tentang ilmu yang
indah dan kebijakan yang indah. Bangsa Yunani juga mengenal kata keindahan
dalam arti estetis yang disebutnya “symmetria” untuk keindahan visual, dan
harmonia untuk keindahan berdasarkan pendengaran (auditif). Jadi pengertian
keindahan secara luas meliputi keindahan seni, alam, moral, dan intelektual.
Herbert Read dalam bukunya The Meaning Of Art
merumuskan keindahan sebagai suatu kesatuan arti hubungan – hubungan bentuk
yang terdapat di antara pencerapan-pencerapan indera kita. Thomas Aquinas merumuskan
keindahan sebagai suatu yang menyenangkan bila dilihat.
Kant secara eksplisit menitikberatkan estetika
kepada teori keindahan dan seni. Teori keindahan adalah dua hal yang dapat
dipelajari secara ilmiah maupun filsafati. Di samping estetika sebagai
filasafat dari keindahan , ada pendekatan ilmiah tentang keindahan. Yang pertama menunjukkan indentitas obyek
artistik, yang kedua obyek keindahan.
Ada dua teori tentang keindahan, yaitu yang bersifat
subyektif dan obyektif.
a.
Keindahan subyektif adalah keindahan
yang ada pada mata yang memandang .
b.
Keindahan obyektif adalah menempatkan
keindahan pada benda yang dilihat.
Definisi keindahan
tidak mesti sama dengan definisi seni, atau berarti seni tidak selalu dibatasi
oleh keindahan. Menurut kaum empiris dari jaman Barok, permasalahan seni
ditentukan oleh reaksi pengamatan terhadap karya seni,. Perhatian terletak pada
penganalisisan terhadap rasa seni, rasa indah, dan rasa keluhuran (keagungan).
Reaksi atas
intelektualisme pada
akhir abad ke -19 yang dipelopori oleh John Ruskin dan William Moris adalah
mengembalikan peranan seni (ingat kelahiran gerakan Bauhaus yang terlibat pada
perkembangan seni dan industri di Eropa).
Dari pandangan tersebut jelas bahwa permasalahan
seni dapat diselidiki dari tiga pendekatan yang berbeda tetapi yang saling
mengisi. Di satu pihak menekankan pada penganalisisan obyektif dari benda seni,
di pihak lain pada upaya subyektif pencipta dan upaya subyektif dari
apresiator. Bila mengingat kembali pandangan klasik (Yunani) tentang hubungan
seni dan keindahan , maka kedua pendapat ahli di bawah ini sangat mendukung
hubungan tersebut, sortais menyatakan bahwa keindahan ditentukan oleh keadaan
sebagai sifat obyektif dari bentuk (I’esthetique est la science du beau) ,
lipps berpendapat bahwa keindahan di tentukan oleh keadaan perasaan subyektif
atau pertimbangan selera (die kunst ist die geflissenliche hervorbringung des
schones) dan hubungan-hubungan bentuk yang terdapat diantara
pencerapan-pencerapan indrawi manusia.
2.2 Keindahan Dalam Sebuah Seni
Kehidupan
Keindahan
biasanya diartikan sebagai sesuatu yang indah, tak ada cacat celanya, bersih,
mulus, mempesona sempurna, mengagumkan, lainya, memiliki daya tarik, dan
sebagainya.itulah inti kesan tentang keindahan yang tercetus melalui desah
ucapan; oh, alangkah indahnya dan lain- lain. Benda yang mempunyai sifat indah
ialah segala hasil seni, pemandangan alam, manusia, rumah, tatanan, perabot
rumah tangga, suara warna, dan sebagainya. Karena itu keindahan dapat
dikatakan, bahwa keindahan merupakan bagian dari hidup manusia. Keindahan tak
dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Keindahan juga bersifat universal,
artinya tidak terikat oleh selera perseorangan, waktu dan tempat, selera mode,
kedaerahan atau lokal.
Perbedaan antara Keindahan sebagai suatu Kualitas Abstrak dan sebagai Sebuah Benda Tertentu yang Indah.Keindahan sebagai suatu kualitas abstrak (Beauty as an abstract quality) menggambarkan sesuatu yang kontemporer dan bersifat nonrealistic di mana sang pencipta karya menggambarkan sesuatu yang tidak bisa dimengerti secara umum dan tidak sesuai dengan realita. Keindahan sebagai kualitas abstrak menggambarkan suatu bentuk dalam yang keindahan di mana keindahan tersebut bersifat eksklusif dan hanya dapat dimengerti oleh orang yang menciptakan keindahan tersebut berdasarkan apa yang dipahaminya.
Keindahan itu suatu konsep abstrak yang tidak dapat dinikmati karena tidak jelas. Keindahan itu baru jelas jika telah dihubungkan dengan sesuatu yang berwujud atau suatu karya. Dengan kata lain keindahan itu baru dapat dinikmati jika dihubungkan dengan suatu bentuk.
Menurut cakupannya orang harus membedakan keindahan sebagai suatu kualitas abstrak dan sebagai sebuah benda tertentu yang indah.
Sedangkan
keindahan sebagai sebuah benda tertentu yang indah adalah keindahan yang
memiliki konsep pemahaman dan nilai yang berbeda dengan kualitas abstrak di
mana benda yang dimaksud dalam hal ini adalah sesuatu yang mewakili keindahan
secara umum dan dapat dengan mudah diterima maupun dipahami oleh masyarakat.
Keindahan
dalam arti luas merupakan pengertian semula dari bangsa yunani dulu yang
didalamnya tercakup pula kebaikan. Dalam arti estetis keindahan bias
berdasarkan penglihatan, pendengaran. Dari itu dapat disimpulkan, bahwa
keindahan tersusun dari berbagai keselarasan dan kebaikan dari garis, warna,
bentuk, nada dan kata-kata. Ada pula yang berpendapat, bahwa keindahan adalah
suatu kumpulan hubungan-hubungan yang selaras dalam suatu benda dan diantara
benda itu dengan si pengamat.
Oleh karena
itu keindahan identik dengan kebenaran. Keindahan merupakan kebenaran dan
kebenaran adalah keindahan. Keduanya mempunyai nilai yang sama yaitu abadi, dan
mempunyai daya tarik yang selalu bertambah. Sesuatu yang tidak mengandung
kebenaran berarti tidak indah. Karena itu hanya tiruan lukisan Monalisa yang
tidak indah, karena dasarnya tidak benar. Sudah tentu kebenaran disini bukan
kebenaran ilmu, melainkan kebenaran menurut konsep dalam seni. Dalam seni, seni
berusaha memberikan makna sepenuh-penuhnya mengenai obyek yang diungkapkan.
2.3
Estetika Klasik Barat, Seni Adalah
Mimesis
Estetika baru muncul abad ke -18 dan
sejarah yang mengenai hal-hal yang mengacu pada estetika adalah setua sejarah
etika, logika, metafisika, dan epistemology. Estetika membahas tentang apa itu
keindahan, menyelidiki prinsip-prinsip landasan seni dan pengalaman seni yakni
penciptaan seni, penilaian atau refleksi atas karya seni. pemikiran
tokoh-tokoh estetika pada masa Yunani klasik, tokoh-tokoh yang di bahas adalah
mulai dari Sokrates, Plato, dan Aristoteles.
Dalam perkembangan seni,
konsepsi rasionalitas sering dibicarakan sebagai suatu hal yang berasal dari
kebudayaan barat. Konsep rasionalitas dalam perkembangan seni ini bermula
ketika digunakannya konsep yang terlihat oleh mata dijadikan dasar dalam mengolah
bentuk-bentuk seni (reproduksi alam). Pandangan seni yang berusaha untuk
menggambarkan alam sekitar dengan tertib ini bermula di Yunani pada sekitar
abad keenam sebelum masehi (bersamaan waktu perpindahan kedua nenek moyang
orang Indonesia dari Yunan Asia Tenggara). Seni bagi orang Yunani pada masa itu
adalah tiruan alam atau disebut “mimesis”.
2.4 Seni Adalah Mimeses
Mimesis merupakan salah satu
wacana yang ditinggalkan Plato dan Aristoteles sejak masa keemasan filsafat
Yunani Kuno, hingga pada akhirnya Abrams memasukkannya menjadi salah satu
pendekatan utama untuk menganalisis seni selain pendekatan ekspresif, pragmatik
dan objektif. Mimesis merupakan ibu dari pendekatan sosiologi seni yang darinya
dilahirkan puluhan metode kritik seni yang lain.
Mimesis berasal bahasa
Yunani yang berarti tiruan. Dalam hubungannya dengan kritik sastra mimesis
diartikan sebagai pendekatan sebuah pendekatan yang dalam mengkaji karya sastra
selalu berupaya untuk mengaitkan karya sastra dengan realitas atau kenyataan. Perbedaan
pandangan Plato dan Aristoteles menjadi sangat menarik karena keduanya
merupakan awal filsafat alam, merekalah yang menghubungkan antara persoalan
filsafat dengan kehidupan.
Banyak contoh yang dapat diambil
dari seni lukis yunani purba atau lebih-lebih lagi seni patungnya. Bagi
orang-orang Yunani seni adalah tiruan alam atau “mimesis” (dari kata “mimic”,
seasal dengan istilah “mimicry” dalam ilmu hayat) yang disebut oleh
Aristoteles, “..omnis ars nature imitation est”
·
Pandangan Plato dan Aristoteles Mengenai
Mimemesis
Pandangan Plato mengenai mimesis
sangat dipengaruhi oleh pandangannya mengenai konsep Idea-idea yang kemudian
mempengaruhi bagaimana pandangannya mengenai seni.
Plato menganggap Idea yang
dimiliki manusia terhadap suatu hal merupakan sesuatu yang sempurna dan tidak
dapat berubah. Idea merupakan dunia ideal yang terdapat pada manusia. Idea oleh
manusia hanya dapat diketahui melalui rasio,tidak mungkin untuk dilihat atau
disentuh dengan panca indra. Idea bagi Plato adalah hal yang tetap atau tidak
dapat berubah, misalnya idea mengenai bentuk segitiga, ia hanya satu
tetapi dapat ditransformasikan dalam bentuk segitiga yang terbuat dari kayu
dengan jumlah lebih dari satu . Idea mengenai segitiga tersebut tidak dapat
berubah, tetapi segitiga yang terbuat dari kayu bisa berubah (Bertens1979:13).
Berdasarkan pandangan Plato
mengenai konsep Idea tersebut, Plato sangat memandang rendah seniman dan
penyair dalam bukunya yang berjudul Republic bagian kesepuluh.
Bahkan ia mengusir seniman dan sastrawan dari negerinya. Karena menganggap
seniman dan sastrawan tidak berguna bagi Athena, mereka dianggap hanya akan
meninggikan nafsu dan emosi saja. Pandangan tersebut muncul karena mimesis yang
dilakukan oleh seniman dan sastrawan hanya akan menghasilkan khayalan tentang
kenyataan dan tetap jauh dari ‘kebenaran’. Seluruh barang yang dihasilkan
manusia menurut Plato hanya merupakan copy dari Idea, sehingga barang
tersebut tidak akan pernah sesempurna bentuk aslinya (dalam Idea-Idea mengenai
barang tersebut). Sekalipun begitu bagi Plato seorang tukang lebih mulia dari
pada seniman atau penyair. Seorang tukang yang membuat kursi, meja, lemari dan
lain sebagainya mampu menghadirkan idea ke dalam bentuk yang dapat disentuh
panca indra. Sedangkan penyair dan seniman hanya menjiplak kenyataan yang dapat
disentuh panca indra (seperti yang dihasilkan tukang), mereka oleh Plato hanya
dianggap menjiplak dari jiplakan .
Menurut Plato mimesis hanya
terikat pada ide pendekatan. Tidak pernah menghasilkan kopi sungguhan, mimesis
hanya mampu menyarankan tataran yang lebih tinggi. Mimesis yang dilakukan oleh
seniman dan sastrawan tidak mungkin mengacu secara langsung terhadap dunia
ideal. (Teew.1984:220). Hal itu disebabkan pandangan Plato bahwa seni dan
sastra hanya mengacu kepada sesuatu yang ada secara faktual seperti yang telah
disebutkan di muka. Bahkan seperti yang telah dijelaskan di muka, Plato
mengatakan bila seni hanya menimbulkan nafsu karena cenderung menghimbau emosi,
bukan rasio (Teew. 1984:221).
Aristoteles adalah seorang
pelopor penentangan pandangan Plato tentang mimesis, yang berarti juga
menentang pandangan rendah Plato terhadap seni. Apabila Plato beranggapan bahwa
seni hanya merendahkan manusia karena menghimbau nafsu dan emosi, Aristoteles
justru menganggap seni sebagai sesuatu yang bisa meninggikan akal budi. Teew
(1984: 221) mengatakan bila Aristoteles memandang seni sebagai katharsis,
penyucian terhadap jiwa. Karya seni oleh Aristoteles dianggap menimbulkan
kekhawatiran dan rasa khas kasihan yang dapat membebaskan dari nafsu rendah
penikmatnya.
Aristoteles menganggap seniman
dan sastrawan yang melakukan mimesis tidak semata-mata menjiplak kenyataan,
melainkan sebuah proses kreatif untuk menghasilkan kebaruan. Seniman dan
sastrawan menghasilkan suatu bentuk baru dari kenyataan indrawi yang
diperolehnya. Dalam bukunya yang berjudul Poetica (via
Luxemberg.1989:17), Aristoteles mengemukakakan bahwa sastra bukan copy
(sebagaimana uraian Plato) melainkan suatu ungkapan mengenai “universalia”
(konsep-konsep umum). Dari kenyataan yang menampakkan diri kacau balau seorang
seniman atau penyair memelih beberapa unsur untuk kemudian diciptakan kembali
menjadi ‘kodrat manusia yang abadi’, kebenaran yang universal. Itulah yang
membuat Aristoteles dengan keras berpendapat bahwa seniman dan sastrawan jauh
lebih tingi dari tukang kayu dan tukang-tukang lainnya.
http://beatroom.blog.friendster.com/2005/07/film-imitasi-kehidupan
diakses 19/06/2009
1. Estetika
Sokrates
Fondamen
Sokrates yang meletakkan batu pertama dari estetika (sebelum nama ini diberi
nama). Dalam perdebatan antara sokrates dan Happias sokrates meminta ide
keindahan “gagasan umum” yang menyebutkan semua barang indah menjadi indah,
Sokrates tidak menanyakan apa yang bersifat indah.
Happias
menambahkan bahwa sendokpun bisa jadi indah, akan tetapi kita tidak dapat
mengartikan sama cantiknya seperti benda dan gadis dara. Sokrates member bumbu
kepada perkataan Happias: “memang Heraklatus pernah mengatakan bahwa kera yang
tercantik, jika dibandingkan dengan orang maka ia masih jelek. Demikian juga
dengan gadis cantik, bukan apa-apa kalau dibandingkan dengan bidadari dari
sorga, sebagaimana orang yang paling arif bijaksana.
apabila
dibandingkan dengan Tuhan, tentu masih tanpak kera dalam segala hal. Akan
tetapi kita kembali kepada: What the beautiful is. Walaupun catatan yang
diberikan oleh sokrates tidak sistematis, estetika telah lahir ketika sokrates
dapat menjawab pertanyaan Happias, dengan perkataan kecantikan bukanlah sifat
tertentu dari seribu barang, tetapi dibelakang semua itu terdapat kecantikan
itu tersendiri.
2. Estetika Plato
Plato adalah
filusuf pertama didunia barat yang dalam seluruh karyanya mengemukakan
pandangan yang meliputi hamper semua pokok semua estetika. Pembahasannya tidak
utuh dan merupakan suatu system tersendiri, tetapi tersebar sebar dalam
karyanya. Berikut ini kita mengumpulkan dan menyingkatkan pandangannya
keindahan dan karya seni.
a).
Keindahan
Plato
berpendapat bahwa untuk mengetahui keindahan sesungguhnya, kita terlebih dahulu
mengosongkan pikiran dan membersihkan diri dari segala kesalahan dan
kekurangan. Kita harus membuang kesalahan dan dosa yang pernah terjadi dan
mencoba kembali kedalam kesucian jiwa kita.
Keindahan
dapat dibagi menjadi dua yang pertama tentang dunia idea, dan kedua dunia yang
nyata. Pandangan yang pertama, secara mengesankan dan dengan bahasa yang sangat
indah, ia kemukakan dalam wawancara semposium sebagi pendirian Socrates.
Socrates mengatakan bahwa ajaran itu diterima dari seorang dewata bernama
Diotima yang berasal dari Mantineia (dalam terjemahan inggris nama dewata itu
adalah “fear the lord from prophetveille”, sesuai dengan sindiran yang termuat
dalam bahasa yunani). Menurut pandangan itu, yang indah adalah benda yang
material, umpamanya tubuh manusia, yang tampak pada saya. Kalau selanjutnya
saya melihat beberapa orang seperti itu, pengalaman akan keindahan meningkat.
Lebih jauh lagi manusia merasa diajak untuk ingat pada yang lebih indah
daripada tubuh, yaitu jiwa lama kelamaan, socrtaes mengajak pendengar untuk
maju terus sampai pada idea yang indah. Itulah yang paling indah, sumber segala
keindahan. Semua keindahan lain haknya ikut ambil pada yang indah dalam dunia
idea itu, sama halnya seperti idea kebenaran, kebaikan, ataupun segitiga.
Pandangan
plato yang pertama didasarkan pada ajaran tentang idea ini, yakni “teori dua
dunia”. Dua dunia tersebut adalah ‘dunia idea’ (dunia atas) dan “dunia
sehari-hari” (dunia bawah). Menurut plato dunia bawah merupakan tiruan dari
dunia atas. Dunia atas digambarkan sebagai dunia idea, yaitu: dunia kebenaran
absolute, sejati, dunia rohani, pengetahuan sejati (episteme). Sedangkan dunia
bawah adalah dunia yang relative, sehari-hari, fana, kebenaran relative,
tiruan, dan hanya merupakan ‘pendapat’. Pandangan kedua, dikemukakan plato
dalam salah satu dialognya yang terkenal, yakni phiilebus. Disini dinyatakan
bahwa yang indah dan sumber segala keindahan adalah yang paling sederhana. Yang
dimaksud sederhana adalah bentuk dan ukuran yang tidak dapat diberi batasan
yang lebih sederhana lagi. Pada pandangan pertama, yang indah itu dilepaskan
dari pengalaman jasmani. Keindahan dalam pengertian hidup sehari-hari adalah
tingkat dua saja. Keindahan sesungguhnya hanya ada di dunia idea, sedangkan
pandanagn plato yang kedua, yang indah itu tidak dilepaskan dari pengalaman
inderawi yang membangun pengalaman estetis dan keindahan dalam pengertian
sehari-hari.
Pandangan
yang kedua ada dalam Philebus. Disana dinyatakan bahwa yang indah dan sumber
segala keindahan adalah yang paling sederhana, umpamanya nada yang paling
sederhana, warna yang sederhana. Yang dimaksud dengan ‘sederhana’ ialah bentuk
dan ukuran yang tidak dapat diberi batasan lebih lanjut berdasarkan sesuatu
yang lebih sederhana lagi. Oleh karena itu keindahan bersifat terpilah-pilah
baik dalam alam maupun dalam karya seni.
Pandangan
plato yang kedua ini mempunyai keistimewaan karena tidak melepaskan diri dari
pengalaman inderawi yang merupakan unsure konstitutif dari pengalaman estetis
dan keindahan dalam pengertian sehari-hari.
1).
Paradigma: dunia atas menjadi contoh, prototype, pola, bagi dunia bawah.
2). Hadir
pada: dunia atas selalu hadir pada (presence) dunia bawah.
3).
Partisipasi: dunia bawah mengambil bagian (berpartisipasi) di dunia atas
b). Karya Seni.
Plato
menyatakan sikapnya terhadap karya seni, terutama dalam karyanya yang terbesar
yaitu politea (republik). Dalam penilaiannya ada dua unsur: yang satu teoritis
dan kedua praktis.
Unsur
teoritis menyatakan bahwa: segala kenyataan yang ada di dunia ini merupakan
tiruan (mimesis) dari yang asli yang terdapat di dunia idea dan jauh lebih
unggul daripada kenyataan di dunia ini. Karya seni merupakan tiruan dari
(mimesis memeseos). Oleh karena itu plato menilai rendah karya seni. Tafsiran
plato tentang karya seni sebgai tiruan dari kenyataan yang ada di dunia ini
tidak hanya jauh dari pandanagn karya seni dewasa ini, tetapi sudah pada jaman
plato dan dalam karyanya sendiri mengalami kesulitan, mungkin karya seni rupa
dan sebagian karya sastra, bisa ditafsirkan sebagai tiruan dari kenyataan,
tetapi karya seni music amat sulit di tafsirkan.
Jadi menurut
plato, karya seni adalah tiruan dari kenyataan yang ada di dunia ini (kecuali
music), jadi jauh dari kebenaran sejati. Itulah sebabnya kemapa ia menyebut
karya seni sebagai tiruan dari (mimesis memeseos). Plato memiliki dua kebertan
terhadap karya seni. Pertama, karena karya seni menirukan sesuatu di dunia ini,
yang sebenarnya sudah merupakan tiruan dari dunia idea. Jadi, karya seni adalah
tiruan dari tiruan artinya tiruan dua tingkat. Itulah sebabnya mengapa menurut
Plato, seni tidak baik untuk dijadikan sebagai sumber pengetahuan.
Bagi plato,
hanya filsafatlah yang pantas menjadi sumber pengetahuan, kebijakan dan
moral.
Keberatan
plato terhadap seni terkait dengan pengaruh buruk seni terhadap masarakat. Seni
memberi pengaruh bagi penonton dan masarakat. Mengapa? Karena, hakikat seni
bersifat emosional. Plato menantang karya sastra dan drama, karena dalam drama
banyak terdapat adegan adegan yang kurang baik dipertontonkan dan akan
menjauhkan warga Negara dari tugasnya membangun Negara. Baginya, pusi itu
prosesnya irasional dan kurang control terhadap akal, sehingga akan member
pengaruh buruk pada penontonnya.
3. Estetika Aristoteles
Sebagai
murid plato, Aristoteles mengemukakan beberapa pandangan yang mirip dengan
ajaran sang guru, tetapi sudut pandangnya berbeda. Mengapa? Karena Aristoteles
menolak dunia idea Plato sebagai sumber pengetahuan. Sumbangan utama
Aristoteles bagi estetika diuraikan dalam buku Poetika (poetics).
a).
Keindahan
Pandangan
Aristoteles tentang keindahan agak dekat dengan pandangan kedua dari plato:
keindahan menyangkut keseimbangan dan keteraturan ukuran, yakni ukuran
material. Pandangan ini, menurut Aristoteles menyangkut benda-benda alam maupun
untuk karya seni buatan manusia
b). Karya
Seni.
Pandangan
Aristoteles tentang ini mirip dengan Plato: karya seni adalah sebuah tiruan
(imitasi), yakni tiruan dari dunia alamiah dan dunia manusia. Bagi Aristoteles,
seni tidak hanya tiruan dari benda yang ada dari alam, tetapi lebih sebagai
tieuan dari sesuatu yang universal. Aristoteles tidak setuju dengan penilaian
negative Plato atas karya seni, karena dia berpendapat bahwa bentuk-bentuk
(form) tidak terpisah dari dunia inderawi, karenanya dia tidak memiliki
keberatan terhadap dunia inderawi dan seni yang meniru dunia inderawi. Maksud
ini sudah jelas, karena pertam-tama minat aristoteles bukan seni rupa melainkan
seni drama dan musik.
Aristoteles
cukup panjang lebar memeriksa dan memerinci segala syarat yang harus dipenuhi
agar suatu tragedi menjadi karya seni yang sempurna. Yang sangat diperhatikan
adalah pandangan pokok Aristoteles yang mendasari syarat-syarat itu, yaitu
pandangannya tentang “khatarsis” artinya pemurnian, yang diasalkan dari kata
“khatarus” artinya murni atau bersih. Menurut Aristoteles, khatarsis adalah
puncak dan tujuan karya seni drama dalam bentuk tragedi. Segala peristiwa,
pertemuan, wawancara, keberhasilan, dan kegagalan serta kekecewaan harus di
susun dan dipentaskan sedemikian rupa sehingga pada suatu saat secara serentak
semuanya tampak logis, tetapi juga seolah-olah tak terduga. Pada saat itulah
khatarsis terjadi secara tiba-tiba: seakan-akan segala masalah dan kejadian
yang muncul bertimbun dalam peran-peran utama dan dalam diri penonton tiba-tiba
pecah atau mencair, tak jarang in terjadi secara mengharukan.
Teori khatarsis Aristoteles ini sangat berpengaruh dalam filsafat seni,
terutama dalam teori drama. Biasanya khatarsis diharapkan terjadi pada diri
penonton dan kemudian dibawanya pulang sebagai pemahaman yang lebih mendalam
tentang manusia, sebagai pembebasan batin sebagai pengalaman penderitaan. Dengan
demikian, khatarsis ini memiliki makna “terapeutik”, bahkan sering sekali
terdapat unsure penyesalan dan perubahan, semacam pencerahan atau pertobatan
dalam pengalaman religius.
BAB III
KESIMPULAN
a. Kesimpulan
Keindahan
adalah sifat dari sesuatu yang memberi kita rasa senang bila melihatnya.
Definisi keindahan tidak mesti sama dengan definisi seni, atau berarti seni
tidak selalu dibatasi oleh keindahan. permasalahan seni ditentukan oleh reaksi
pengamatan terhadap karya seni,. Perhatian terletak pada penganalisisan
terhadap rasa seni, rasa indah, dan rasa keluhuran (keagungan). Sedangkan
Estetika membahas tentang apa itu keindahan, menyelidiki prinsip-prinsip
landasan seni dan pengalaman seni yakni penciptaan seni, penilaian atau
refleksi atas karya seni.
b. Saran
Saran
kami tujukan kepada pembuat makalah berikutnya , kami sadar makalah kami belum
sempurna tanpa kritik dan saran dari pembaca.
DAFTAR PUSTAKA
2.
http://dicky-andeska.blogspot.com/2013/04/manusia-dan-keindahan.html
http://belajardesaindanarsitektur.blogspot.com/2012/06/pengertian-estetika-dalam-desain.html
http://belajardesaindanarsitektur.blogspot.com/2012/06/pengertian-estetika-dalam-desain.html
5.
http://beatroom.blog.friendster.com/2005/07/film-imitasi-kehidupan/
diakses 19 06 2009).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar