Kamis, 19 November 2015

makalah finger painting kelompok 4



Kata Pengantar
Puji syukur hanyalah untuk Allah SWT, shalawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan kita Nabi besar Muhammad SAW.
Alhamdulilah akhirnya kami bisa menyelesaikan makalah tentang “Teknik Finger Painting Dan Kolase Dalam Seni Rupa” dari berbagai media kami mencari informasi sebaik-baiknya agar dapat di pelajari dengan sebaik-baiknya. semoga dengan adanya tambahan materi ini bisa menambah wawasan/pengetahuan kita tentang estetika keindahan dalam seni . Ada suatu kalimat “Hakikat belajar adalah mempelajari sesuatu yag belum pernah diketahui” , maka melalui makalah ini kita bisa mempelajari apa yang sekiranya perlu dipelajari.
kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan dan kami memohon kritik dan saran yang membangun demi perbaikan di masa depan.
                                                                       
                                                            Tulungagung, 05 oktober 2015

 (penulis)







DAFTAR ISI
Kata pengantar................................................................................................. 1
Daftar isi........................................................................................................... 2
BAB I PENDAHULUAN.............................................................................. 3
1.1 Latar Belakang........................................................................................... 3
1.2 Rumusan Masalah....................................................................................... 4
1.3 Tujuan......................................................................................................... 4
BAB II PEMBAHASAN............................................................................... 5
2.1 Pengertian Finger Painting......................................................................... 5
2.2 Teknik-teknik finger painting..................................................................... 6
2.3 Pengertian Kolase....................................................................................... 8
2.4 Teknik-teknik Kolase.................................................................................. 9
BAB III PENUTUP....................................................................................... 13
3.1 Kesimpulan................................................................................................. 13
3.2 Saran........................................................................................................... 13
Daftar Pustaka.................................................................................................. 14







BAB I
PENDAHULUAN

1.1  LATAR BELAKANG
Membuat karya seni merupakan wujud ekspresi dari suatu ide atau gagasan. Ide adalah hasil pemikiran yang berawal dari suatu inspirasi atau imajinasi, gambaran tertangkap melalui ruang imajinasi seseorang dapat terwujud kan dalam bentuk karya seni. Disini kami akan membahas mengenai teknik-teknik dalam berkarya seni rupa salah satunya adalah finger painting dan kolase. Finger painting adalah suatu karya seni dengan cara bermain coretan , berkreasi mengunakan tangan dan cat, ini biasanya sering dilakukan oleh anak –anak karena mereka sangat suka bermain mengunakan jari-jari mereka. melukis menggunakan jari selalu menjadi aktifitas yang menyenangkan. Sedangkan pengertian tentang kolase adalah sebuah cabang dari seni rupa yang memiliki komposisi yang dibuat dari berbagai bahan seperti kertas, kain, kaca , logam, kayu dan lainnya yang ditempelkan pada permukaan gambar. Kolase ini termasuk karya seni dua dimensi yang menggunakan berbagai macam paduan bahan. Teknik-teknik ini mudah untuk di pelajari , tidak begitu sulit karena biasanya teknik ini di terapkan guru kepada siswa didiknya terutama pada tingkatan taman kanak-kanak, apalagi para seniman juga sangat kreative dalam memadu padankan warna dan trik-trik agar tampak lebih indah dan memiliki nilai seni yang tinggi. Setidaknya banyak anak-anak yang sudah di bekali tentang cara atau teknik semacam ini , sehingga mereka tidak akan canggung dengan kata-kata tersebut. sebelum melanjutkan ke pembahasan berikutnya bukankah kalian sudah bisa membayangkan bagaimana kolase maupun finger painting tersebut ? dengan sedikit pembahasan yang diuraikan diatas.
Setelah diuraikan sedikit tentang apa itu makna finger painting dan kolase, dalam makalah ini kami akan membahas lebih terperinci tentang bagaimana teknik-teknik dalam pembuatan nya dan juga penjelasannya.

1.2 Perumusan Masalah
a. apa pengertian dari finger painting ?
b. bagaimana teknik-teknik dalam penerapan finger painting ?
c. apa pengertian dari kolase ?
d. bagaimana teknik-teknik penerapan kolase?

1.3 Tujuan
Adakah tujuan dari penulisan makalah ini adalah :
a.       Mengetahui pengertian tentang finger painting
b.      Memahami teknik-teknik dalam menerapkan finger painting
c.       Mengetahui pengertian tentang kolase
d.      Memahami teknik-teknik dalam penerapan kolase










BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Finger Painting
Finger Painting berasal dari bahasa Ingris, Finger artinya jari sedangkan Painting artinya melukis. Jadi Finger Painting adalah melukis dengan jari. Ada beberapa pengertian finger painting menurut para ahli, yaitu : Menurut Gazali Solahudin ( 2008), Finger painting adalah teknik melukis dengan mengoleskan kanji pada kertas atau karton dengan jari atau telapak tangan.dalam aktifitas ini dapat digunakan berbagai media dan warna, dapat menggunakan tepung kanji, adonan kue, pasir dan sebagainya. Aktifitas ini penting dilakukan sebab akan memberikan sensasi pada jari sehingga dapat merasakan control jarinyadan membentuk konsep gerak membuat huruf.  Menurut Wtarsono ( 2009), Finger Painting adalah melukis dengan jari, melatih pengembangan imajinasi, memperhalus kemampuan motorik halus, dan mengasah bakat seni, khususnya seni rupa. Dalam aktifitas Finger Painting ini dapat digunakan berbagai media dan warna, dapat menggunakan tepung kanji, adonan kue, pasi dan sebagainya. Menurut LIM Imandala (2007 : 11) Aktifitas ini penting dilakukan sebab akan memberikan sensasi pada jari sehingga dapat merasakan kontrol gerakan jarinya dan membentuk konsep gerak membuat huruf.
Untuk melatih koordinasi tangan dan matanya, selain kesempatan berlatih menggambar, anda juga dapat melatih si kecil melalui kegiatan-kegiatan sederhana seperti Finger Painting atau menulis dengan jari diatas karton. Jari jemari anak menggoreskan cairan warna-warni di atas selembar kertas.Goresan jari- jemari mungil itu akhirnya menghasilkan sebuah karya lukisan abstrakyang penuh warna.Bahan yang digunakan ini adalah tepung kanji yang dicampur dengan pewarna.Kegiatan ini merupakan salah satu metode yang bermanfaat untuk merangsang atau menstimulan motorik anak.


2.2 TEKNIK-TEKNIK MELUKIS DENGAN JARI (FINGER PAINTING)
Finger painting merupakan seni melukis dengan jari. Kegiatan finger painting sangat cocok dikenalkan pada anak usia dini. Permainan ini bisa melatih motorik dan kreatifitas anak. Tidak ada teknik khusus dalam finger painting karena kegiatan ini merupakan cara ekplorasi dan ekspresi diri atas rasa estetika. Cukup menggunakan jari tangan sebagai media dalam melukis.
Bermain dengan finger
painting sangat disukai anak-anak, karena anak-anak suka warna. Mereka akan melakukan eksplorasi pada warna. Ini untuk melatih motorik anak. Finger painting merupakan cara awal melukis menggunakan alat lukis yang lain. Yang perlu diingat dalam finger painting, gunakan pewarna yang aman.Bisa menggunakan pewarna makanan. Pembuatan lukisan dengan finger painting bebas layaknya seorang pelukis bisa melukis objek apa saja. Berbagai bentuk objek dapat diwujudkan dengan finger painting.
Salah satu contoh gambar dari finger painting :
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj89RnuqLp68GJsmFQrtRYgCVyDl1PlRdtpNBLYENRft4ma8VQ62ROZ4_i8vwnXZngDHjLDKOhnSG9tj5TZZUZY8nrScNkIwFcE3C39rnqN9bkZCaEhfmm1dCpz9lC7ZV6ILrFFIHHwOnnN/s1600/painting2.jpg






Pewarnaan finger painting terdapat dua cara:
  • Menyiapkan warna-warni dari warna khusus yang ingin kita gunakan seperti: jingga ungu, hijau
  • Menyiapkan warna-warna asli yaitu merah, kuning, biru, putih, hitam
Karena finger painting ini sering di terapkan pada anak-anak , maka disini ada beberapa manfaat finger painting bagi anak-anak, Pada anak, lebih baik disiapkan warna-warna utama yaitu pada pewarnaan yang kedua karena mereka akan belajar sendiri mengenai warna dan dapat bereksplorasi sendiri. Anak akan mengetahui sendiri jika warna-warna tadi tercampur akan menghasilkan warna apa saja. Anak-anak akan belajar sendiri dari pengalamannya. Sebaiknya bermain finger painting menggunakan kertas putih yang agak tebal dan halus sehingga warna bisa menyebar dengan merata.Pewarnaan latar belakang dimulai dari warna terang dahulu selanjutnya warna yang lebih gelap dan semakin gelap. Sebaliknya untuk melukis objek dimulai dari warna yang gelap selanjutnya ke warna yang makin terang.

Adapun manfaat finger painting bagi tumbuh kembang anak antara lain :
1.Melatih motorik halus pada anak yang melibatkan otot-oto kecil dan kematangan syaraf,karena pada ujung ujung jari anak terdapat sensor yang berhubungan dengan otak.Dengan finger painting ujung-ujung jari anak akn banyak bergerak dan bergesekan denga cat dan media lukisnya.
2. Sebagai media ekspresi emosi anak,anak akan menuangkan ekspresi jiwanya dengan warna warna yang sesuai dengan kondisi emosionalnya (ini bila anak diberi kesempatan melukis secara bebas,tidak ditentukan motif dan warnanya )
3.Mengenalkan anak pada konsep warna primer,lebih jauh lagi memberi kesempatan pada anak untuk bereksperiment tentang pencampuran warna sehingga menghasilkan warna sekunder.
4.Mengembangkan dan mengenalkan estetika anak tentang keindahan warna dan bentuk.
5.Meningkatakan daya imajinasi dan kreatifitas anak.
6.Mengurangi sifat hiperaktifitas pada anak penderita autis dan hiperaktif.
7.Meningkatkan koordinasi mata dan tangan
8.Membantu anak untuk lebih rileks di sela-sela aktifitas yang padat.



2.3 Pengertian Dari Kolase
Kolase adalah sebuah karya seni terdiri dari sejumlah bahan, seperti kertas, kertas koran, foto, pita atau benda lainnya yang ditempelkan di latar belakang, seperti kertas polos. Kolase juga dapat dibuat dengan bahan fisik atau gambar elektronik yang ditempel di latar belakang digital. Berasal dari bahasa Perancis “coller” yang berarti “mengelem”, kolase memungkinkan kalian untuk bereksperimen dengan bermacam-macam bahan untuk hasil akhir yang menakjubkan. Semua kegiatan adalah merupakan ‘perakitan’ beraneka bahan dasar menjadi sebuah karya seni.Misalnya, merakit dan merekatkan kertas, kayu, metal, barang-barang bekas, bahkan sampah ke dalam media hiasan dinding.Begitu pula, semua media lukisan yang ditambahi dan ditempeli asesoris berbagai bentuk benda sesuai aslinya.
Kendati seni kolase berlawanan sifatnya dengan seni lukis, pahat, atau cetak dan seni kriya lainnya, yakni berupa karya yang dihasilkan tidak lagi memperlihatkan bentuk asal material yang dipakai seni lukis, misalnya, dari kanvas putih menjadi lukisan yang berwarna-warni.
Dalam seni kolase, bentuk asli dari material yang digunakan harus tetap terlihat, jadi kalau menggunakan kerang-kerangan atau potongan-potongan foto, benda bekas, material tersebut harus masih dapat dikenali bentuk aslinya walau sudah dirakit menjadi satu kesatuan.  Kolase baik untuk anak-anak seni kolase di perkenalkan kepada anak-anak sekolah TK dan SD melalui aktivitas menghias-hiasi dinding dengan biji-bijian atau potongan perca. Kolase kaya akan unsur pendidikan yang komplet bagi perkembangan otak anak, diantaranya bermain dan berkreasi, belajar mengenal bentuk geometris dan warna , melatih kemampuan motorik halus dan lain-lain.
Selain itu, manfaat kolase dapat dirasakan sekali untuk:
  1. Membantu kemampuan berbahasa dengan jalan anak bisa menjelaskan makna di balik hasil karyanya kepada guru/orang tua.
  2. Melatih kepekaan estetis
  3. Berempati pada barang-barang yang sudah tidak dipakai lagi.
2.4 TEKNIK-TEKNIK DALAM PENERAPAN KOLASE
1.Kumpulkan bahan yang dibutuhkan untuk membuat kolase. Berikut adalah bahan yang bisa digunakan:
  • Gunakan karton, kertas fotokopi, kantong kertas, kertas tisu, kertas bercorak, kertas buatan tangan, dll.. Kertas yang digunakan bisa halus atau keras, atau campuran keduanya.
  • Gunakan potongan majalah atau kertas koran. Majalah mode atau berita memiliki beberapa gambar yang cocok untuk dibuat kolase. Kertas koran dapat menambah tekstur yang menarik kepada kolase; namun tintanya terkadang dapat luntur.
  • Cari potongan kertas dinding yang sudah lama. Anda mungkin memiliki sisa-sisanya di lemari, atau Anda dapat membeli potongan-potongan kecil di toko kertas dinding.
  • Gunakan kertas timah dan perekat yang berbeda-beda. Gunakan kertas aluminium dari dapur, atau perekat berwarna.
  • Make a Collage Step 4.jpgGunakan foto. Menggunting gambar dari foto-foto lama dapat memberikan kesan retro pada kolase. Namun pastikan Anda tidak menggunting foto satu-satunya yang mungkin masih berguna di kemudian hari.







2.Lipat, gunting atau sobek kertas menjadi bentuk yang berbeda-beda.Anda dapat menggunakan gunting atau pisau kerajinan tangan untuk membuat bentuk yang berbeda.Jika tidak, Anda dapat menyobek kasar di ujung potongan kertas untuk memberikan tekstur atau bentuk yang kurang teratur.
  • Gunting seluruh gambar, bagian yang dapat dikenali, atau secukupnya untuk membuat tekstur, warna, atau perasaan yang membangkitkan.
  • Make a Collage Step 5.jpgUntuk membuat kata-kata, gunting huruf dari sumbernya dengan fonta yang berbeda-beda.






3.Munculkan sebuah tema.Anda mungkin sudah memiliki tema, atau mungkin baru tebersit saat Anda mengumpulkan bahan-bahan.Apa pun itu, buatlah kolase Anda berdasarkan ide atau gambar utama.
4.Pertimbangkan untuk menambah ornamen.Walau tidak penting, ornamen dapat membuat kolase menjadi lebih baik dengan menambahkan kedalaman, minat, dan kilau.Gunakan pita, manik-manik, tali, bulu atau kain di kolase kertas.Temukan barang-barang ini di sekitar rumah, atau beli dari toko kerajinan tangan.

5.Tetapkan apa yang akan ditempel di kolase Kalian .kalian  dapat menggunakan secarik kertas, karton atau bagian kardus, contohnya.Apa pun yang Anda pilih, pastikan bahan itu cukup kuat untuk menahan beberapa lapis bobot dan mudah untuk dipajang.
6.Kumpulkan semua potongan sebelum ditempelkan. Walaupun bersifat opsional, Anda sebaiknya mencobanya terlebih dahulu semua yang akan Anda letakkan di kolase, sebarkan untuk merancang kolase sebelum membuatnya. Letakkan di permukaan yang lebar seperti meja atau lantai. Susun barang-barang tersebut, dimulai dari latar belakang dan terus sampai ke depan. Ini dapat memberikan Anda gambaran seperti apa hasil akhirnya sebelum menempelnya. Jika Anda ingin mengingatnya dengan tepat, jepretlah percobaan tersebut. Ide-ide untuk kolase.
Make a Collage Step 9.jpg








7.Lem kolase. Mulailah dari latar belakang dan terus ke depan, lem potongan-potongan kolase ke dasarnya. Gunakan lem putih biasa, lem stik atau semen karet, dan bekerjalah dengan tepat.
  • Cobalah untuk menyusun kolase di satu potongan yang menurut Anda terlihat mencolok atau menarik.
  • Ingatlah bahwa tidak semua potongan harus ditempel merata. Anda dapat meremas atau melipat untuk mendapatkan tekstur yang berbeda.


Make a Collage Step 10.jpg





8.Biarkan kolase mengering. Kolase kini berisi beberapa lapis lem.Berikan waktu yang cukup agar dapat mengering.
  • Untuk kolase kecil, sekitar satu jam akan cukup.
  • Untuk kolase besar, Anda harus mendiamkannya semalaman atau menggunakan kipas angin dengan tiupan yang sangat lambat.









BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Finger painting adalah suatu karya seni dengan cara bermain coretan , berkreasi mengunakan tangan dan cat, ini biasanya sering dilakukan oleh anak –anak karena mereka sangat suka bermain mengunakan jari-jari mereka. melukis menggunakan jari selalu menjadi aktifitas yang menyenangkan. Sedangkan pengertian tentang kolase adalah sebuah cabang dari seni rupa yang memiliki komposisi yang dibuat dari berbagai bahan seperti kertas, kain, kaca , logam, kayu dan lainnya yang ditempelkan pada permukaan gambar. Kolase ini termasuk karya seni dua dimensi yang menggunakan berbagai macam paduan bahan.
3.2 Saran
Demikian makalah yang kami buat, semoga dapat bermanfaat bagi kalian pembaca. Apabila ada kritik dan saran yang ingin disampaikan, kami dengan sangat senang akan menerimanya. terimakasih







DAFTAR PUSTAKA


3.      Sumber : buku guru tematik kelas IV tema


makalah estetika klasik barat kelompok 4



BAB I
PENDAHULUAN
1.1             Latar Belakang

Mempelajari pengetahuan tentang keindahan dalam sebuah seni sangat di perlukan bagi seorang pelajar, seni sangat menarik untuk di pelajari selain karena keindahan nya seni juga bisa menghasilkan keuntungan jika seseorang mempunyai bakat seni. Contohnya seseorang yang memiliki bakat seni lukis, mereka bisa membuat suatu lukisan yang indah dan akhirnya mempunyai nilai jual. Lukisan sendiri adalah salah satu keindahan seni yang merupakan hasil coretan-coretan yang menghasilkan gambar dan memiliki suatu makna di setiap bagiannya . Selain lukisan keindahan seni juga dapat disalurkan dalam karya sastra. Keindahan merupakan sifat dan ciri orang, hewan , tempat, objek, atau gagasan yang memberikan pengalaman persepsi kesenangan, bermakna atau kepuasan.
Keindahan itu suatu konsep abstrak yang tidak dapat dinikmati karena tidak jelas, keindahan itu baru jelas jika telah dihubungkan dengan suatu yang berwujud atau suatu karya.keindahan identik dengan kebenaran, keindahan merupakan kebenaran dan kebenaran adalah keindahan, keduanya mempunyai nilai yang sama yaitu abadi dan mempunyai daya tarik yang selalu bertambah. Manusia memiliki sensibilitas esthetis, karena itu manusia tak dapat dilepaskan dari keindahan. Teori keindahan subjektif akan sulit menjawab persoalan yang baru muncul, mengapa kita senang terhadap sesuatu. Hal ini akan tergantung pada diri penikmatnya dengan berbagai keunikan pengalaman batinnya yang berbeda dengan penikmat yang lain.




1.2            Perumusan Masalah
a.       Apa Pengertian Dari Keindahan Dalam Seni ?
b.      Bagaimana sejarah estetika klasik barat ?
c.       Apa yang dimaksud dengan “seni adalah mimeses” ?

1.3            Tujuan
a.     Mengetahui pengertian keindahan dalam seni
b.     Mengetahui sejarah tentang estetika klasik barat
c.      Dapat memahami pengertian tentang seni adalah mimeses















BAB II
PEMBAHASAN

2.1  Pengertian Keindahan Dalam Seni
Keindahan berasal dari kata Indah, Keindahan adalah sifat dari sesuatu yang memberi kita rasa senang bila melihatnya. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, keindahan diartikan sebagai keadaan yang enak dipandang, cantik, bagus benar atau elok. Keindahan dipelajari sebagai bagian dari estetika, sosiologi, psikologi sosial, dan budaya. Sebuah “kecantikan yang ideal” adalah sebuah entitas yang dikagumi, atau memiliki fitur yang dikaitkan dengan keindahan dalam suatu budaya tertentu, untuk kesempurnaannya.
Keindahan (beauty) merupakan pengertian seni yang telah diwariskan oleh bangsa yunani dahulu, plato misalnya menyebutkan tentang watak yang indah dan hukuman yang indah. Aristoteles merumuskan keindahan sebagai suatu yang baik dan menyenangkan. Plotinus menulis tentang ilmu yang indah dan kebijakan yang indah. Bangsa Yunani juga mengenal kata keindahan dalam arti estetis yang disebutnya “symmetria” untuk keindahan visual, dan harmonia untuk keindahan berdasarkan pendengaran (auditif). Jadi pengertian keindahan secara luas meliputi keindahan seni, alam, moral, dan intelektual.

Herbert Read dalam bukunya The Meaning Of Art merumuskan keindahan sebagai suatu kesatuan arti hubungan – hubungan bentuk yang terdapat di antara pencerapan-pencerapan indera kita. Thomas Aquinas merumuskan keindahan sebagai suatu yang menyenangkan bila dilihat.
Kant secara eksplisit menitikberatkan estetika kepada teori keindahan dan seni. Teori keindahan adalah dua hal yang dapat dipelajari secara ilmiah maupun filsafati. Di samping estetika sebagai filasafat dari keindahan , ada pendekatan ilmiah tentang keindahan.  Yang pertama menunjukkan indentitas obyek artistik, yang kedua obyek keindahan.
Ada dua teori tentang keindahan, yaitu yang bersifat subyektif dan obyektif.
a.       Keindahan subyektif adalah keindahan yang ada pada mata yang memandang .
b.      Keindahan obyektif adalah menempatkan keindahan pada benda yang dilihat.
Definisi keindahan tidak mesti sama dengan definisi seni, atau berarti seni tidak selalu dibatasi oleh keindahan. Menurut kaum empiris dari jaman Barok, permasalahan seni ditentukan oleh reaksi pengamatan terhadap karya seni,. Perhatian terletak pada penganalisisan terhadap rasa seni, rasa indah, dan rasa keluhuran (keagungan). Reaksi atas

intelektualisme pada akhir abad ke -19 yang dipelopori oleh John Ruskin dan William Moris adalah mengembalikan peranan seni (ingat kelahiran gerakan Bauhaus yang terlibat pada perkembangan seni dan industri di Eropa).
Dari pandangan tersebut jelas bahwa permasalahan seni dapat diselidiki dari tiga pendekatan yang berbeda tetapi yang saling mengisi. Di satu pihak menekankan pada penganalisisan obyektif dari benda seni, di pihak lain pada upaya subyektif pencipta dan upaya subyektif dari apresiator. Bila mengingat kembali pandangan klasik (Yunani) tentang hubungan seni dan keindahan , maka kedua pendapat ahli di bawah ini sangat mendukung hubungan tersebut, sortais menyatakan bahwa keindahan ditentukan oleh keadaan sebagai sifat obyektif dari bentuk (I’esthetique est la science du beau) , lipps berpendapat bahwa keindahan di tentukan oleh keadaan perasaan subyektif atau pertimbangan selera (die kunst ist die geflissenliche hervorbringung des schones) dan hubungan-hubungan bentuk yang terdapat diantara pencerapan-pencerapan indrawi manusia.
2.2 Keindahan Dalam Sebuah Seni Kehidupan

Keindahan biasanya diartikan sebagai sesuatu yang indah, tak ada cacat celanya, bersih, mulus, mempesona sempurna, mengagumkan, lainya, memiliki daya tarik, dan sebagainya.itulah inti kesan tentang keindahan yang tercetus melalui desah ucapan; oh, alangkah indahnya dan lain- lain. Benda yang mempunyai sifat indah ialah segala hasil seni, pemandangan alam, manusia, rumah, tatanan, perabot rumah tangga, suara warna, dan sebagainya. Karena itu keindahan dapat dikatakan, bahwa keindahan merupakan bagian dari hidup manusia. Keindahan tak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Keindahan juga bersifat universal, artinya tidak terikat oleh selera perseorangan, waktu dan tempat, selera mode, kedaerahan atau lokal.

Perbedaan antara Keindahan sebagai suatu Kualitas Abstrak dan sebagai Sebuah Benda Tertentu yang Indah.Keindahan sebagai suatu kualitas abstrak (Beauty as an abstract quality) menggambarkan sesuatu yang kontemporer dan bersifat nonrealistic di mana sang pencipta karya menggambarkan sesuatu yang tidak bisa dimengerti secara umum dan tidak sesuai dengan realita. Keindahan sebagai kualitas abstrak menggambarkan suatu bentuk dalam yang keindahan di mana keindahan tersebut bersifat eksklusif dan hanya dapat dimengerti oleh orang yang menciptakan keindahan tersebut berdasarkan apa yang dipahaminya.

Keindahan itu suatu konsep abstrak yang tidak dapat dinikmati karena tidak jelas. Keindahan itu baru jelas jika telah dihubungkan dengan sesuatu yang berwujud atau suatu karya. Dengan kata lain keindahan itu baru dapat dinikmati jika dihubungkan dengan suatu bentuk.
Menurut cakupannya orang harus membedakan keindahan sebagai suatu kualitas abstrak dan sebagai sebuah benda tertentu yang indah.

Sedangkan keindahan sebagai sebuah benda tertentu yang indah adalah keindahan yang memiliki konsep pemahaman dan nilai yang berbeda dengan kualitas abstrak di mana benda yang dimaksud dalam hal ini adalah sesuatu yang mewakili keindahan secara umum dan dapat dengan mudah diterima maupun dipahami oleh masyarakat.

Keindahan dalam arti luas merupakan pengertian semula dari bangsa yunani dulu yang didalamnya tercakup pula kebaikan. Dalam arti estetis keindahan bias berdasarkan penglihatan, pendengaran. Dari itu dapat disimpulkan, bahwa keindahan tersusun dari berbagai keselarasan dan kebaikan dari garis, warna, bentuk, nada dan kata-kata. Ada pula yang berpendapat, bahwa keindahan adalah suatu kumpulan hubungan-hubungan yang selaras dalam suatu benda dan diantara benda itu dengan si pengamat.

Oleh karena itu keindahan identik dengan kebenaran. Keindahan merupakan kebenaran dan kebenaran adalah keindahan. Keduanya mempunyai nilai yang sama yaitu abadi, dan mempunyai daya tarik yang selalu bertambah. Sesuatu yang tidak mengandung kebenaran berarti tidak indah. Karena itu hanya tiruan lukisan Monalisa yang tidak indah, karena dasarnya tidak benar. Sudah tentu kebenaran disini bukan kebenaran ilmu, melainkan kebenaran menurut konsep dalam seni. Dalam seni, seni berusaha memberikan makna sepenuh-penuhnya mengenai obyek yang diungkapkan.
2.3 Estetika  Klasik Barat, Seni Adalah Mimesis
Estetika baru muncul abad ke -18 dan sejarah yang mengenai hal-hal yang mengacu pada estetika adalah setua sejarah etika, logika, metafisika, dan epistemology. Estetika membahas tentang apa itu keindahan, menyelidiki prinsip-prinsip landasan seni dan pengalaman seni yakni penciptaan seni, penilaian atau refleksi atas karya seni. pemikiran tokoh-tokoh estetika pada masa Yunani klasik, tokoh-tokoh yang di bahas adalah mulai dari Sokrates, Plato, dan Aristoteles.
Dalam perkembangan seni, konsepsi rasionalitas sering dibicarakan sebagai suatu hal yang berasal dari kebudayaan barat. Konsep rasionalitas dalam perkembangan seni ini bermula ketika digunakannya konsep yang terlihat oleh mata dijadikan dasar dalam mengolah bentuk-bentuk seni (reproduksi alam). Pandangan seni yang berusaha untuk menggambarkan alam sekitar dengan tertib ini bermula di Yunani pada sekitar abad keenam sebelum masehi (bersamaan waktu perpindahan kedua nenek moyang orang Indonesia dari Yunan Asia Tenggara). Seni bagi orang Yunani pada masa itu adalah tiruan alam atau disebut “mimesis”.
2.4 Seni Adalah Mimeses
Mimesis merupakan salah satu wacana yang ditinggalkan Plato dan Aristoteles sejak masa keemasan filsafat Yunani Kuno, hingga pada akhirnya Abrams memasukkannya menjadi salah satu pendekatan utama untuk menganalisis seni selain pendekatan ekspresif, pragmatik dan objektif. Mimesis merupakan ibu dari pendekatan sosiologi seni yang darinya dilahirkan puluhan metode kritik seni yang lain.
Mimesis berasal  bahasa Yunani yang berarti tiruan. Dalam hubungannya dengan kritik sastra mimesis diartikan sebagai pendekatan sebuah pendekatan yang dalam mengkaji karya sastra selalu berupaya untuk mengaitkan karya sastra dengan realitas atau kenyataan. Perbedaan pandangan Plato dan Aristoteles menjadi sangat menarik karena keduanya merupakan awal filsafat alam, merekalah yang menghubungkan antara persoalan filsafat dengan kehidupan.
Banyak contoh yang dapat diambil dari seni lukis yunani purba atau lebih-lebih lagi seni patungnya. Bagi orang-orang Yunani seni adalah tiruan alam atau “mimesis” (dari kata “mimic”, seasal dengan istilah “mimicry” dalam ilmu hayat) yang disebut oleh Aristoteles, “..omnis ars nature imitation est”
·         Pandangan Plato dan Aristoteles Mengenai Mimemesis
Pandangan Plato mengenai mimesis sangat dipengaruhi oleh pandangannya mengenai konsep Idea-idea yang kemudian mempengaruhi bagaimana pandangannya mengenai seni.
Plato menganggap Idea yang dimiliki manusia terhadap suatu hal merupakan sesuatu yang sempurna dan tidak dapat berubah. Idea merupakan dunia ideal yang terdapat pada manusia. Idea oleh manusia hanya dapat diketahui melalui rasio,tidak mungkin untuk dilihat atau disentuh dengan panca indra. Idea bagi Plato adalah hal yang tetap atau tidak dapat berubah,  misalnya idea mengenai bentuk segitiga, ia hanya satu tetapi dapat ditransformasikan dalam bentuk segitiga yang terbuat dari kayu dengan jumlah lebih dari satu . Idea mengenai segitiga tersebut tidak dapat berubah, tetapi segitiga yang terbuat dari kayu bisa berubah (Bertens1979:13).
Berdasarkan pandangan Plato mengenai konsep Idea tersebut, Plato sangat memandang rendah seniman dan penyair dalam bukunya yang berjudul Republic bagian kesepuluh. Bahkan ia mengusir seniman dan sastrawan dari negerinya. Karena menganggap seniman dan sastrawan tidak berguna bagi Athena, mereka dianggap hanya akan meninggikan nafsu dan emosi saja. Pandangan tersebut muncul karena mimesis yang dilakukan oleh seniman dan sastrawan hanya akan menghasilkan khayalan tentang kenyataan dan tetap jauh dari ‘kebenaran’. Seluruh barang yang dihasilkan manusia menurut Plato hanya merupakan copy dari Idea, sehingga barang tersebut tidak akan pernah sesempurna bentuk aslinya (dalam Idea-Idea mengenai barang tersebut). Sekalipun begitu bagi Plato seorang tukang lebih mulia dari pada seniman atau penyair. Seorang tukang yang membuat kursi, meja, lemari dan lain sebagainya mampu menghadirkan idea ke dalam bentuk yang dapat disentuh panca indra. Sedangkan penyair dan seniman hanya menjiplak kenyataan yang dapat disentuh panca indra (seperti yang dihasilkan tukang), mereka oleh Plato hanya dianggap menjiplak dari jiplakan .
Menurut Plato mimesis hanya terikat pada ide pendekatan. Tidak pernah menghasilkan kopi sungguhan, mimesis hanya mampu menyarankan tataran yang lebih tinggi. Mimesis yang dilakukan oleh seniman dan sastrawan tidak mungkin mengacu secara langsung terhadap dunia ideal.  (Teew.1984:220). Hal itu disebabkan pandangan Plato bahwa seni dan sastra hanya mengacu kepada sesuatu yang ada secara faktual seperti yang telah disebutkan di muka. Bahkan seperti yang telah dijelaskan di muka, Plato mengatakan bila seni hanya menimbulkan nafsu karena cenderung menghimbau emosi, bukan rasio (Teew. 1984:221).
Aristoteles adalah seorang pelopor penentangan pandangan Plato tentang mimesis, yang berarti juga menentang pandangan rendah Plato terhadap seni. Apabila Plato beranggapan bahwa seni hanya merendahkan manusia karena menghimbau nafsu dan emosi, Aristoteles justru menganggap seni sebagai sesuatu yang bisa meninggikan akal budi. Teew (1984: 221) mengatakan bila Aristoteles memandang seni sebagai katharsis, penyucian terhadap jiwa. Karya seni oleh Aristoteles dianggap menimbulkan kekhawatiran dan rasa khas kasihan yang dapat membebaskan dari nafsu rendah penikmatnya.

Aristoteles menganggap seniman dan sastrawan yang melakukan mimesis tidak semata-mata menjiplak kenyataan, melainkan sebuah proses kreatif untuk menghasilkan kebaruan. Seniman dan sastrawan menghasilkan suatu bentuk baru dari kenyataan indrawi yang diperolehnya. Dalam bukunya yang berjudul Poetica (via Luxemberg.1989:17), Aristoteles mengemukakakan bahwa sastra bukan copy (sebagaimana uraian Plato) melainkan suatu ungkapan mengenai “universalia” (konsep-konsep umum). Dari kenyataan yang menampakkan diri kacau balau seorang seniman atau penyair memelih beberapa unsur untuk kemudian diciptakan kembali menjadi ‘kodrat manusia yang abadi’, kebenaran yang universal. Itulah yang membuat Aristoteles dengan keras berpendapat bahwa seniman dan sastrawan jauh lebih tingi dari tukang kayu dan tukang-tukang lainnya.
http://beatroom.blog.friendster.com/2005/07/film-imitasi-kehidupan diakses 19/06/2009

1.      Estetika Sokrates
Fondamen Sokrates yang meletakkan batu pertama dari estetika (sebelum nama ini diberi nama). Dalam perdebatan antara sokrates dan Happias sokrates meminta ide keindahan “gagasan umum” yang menyebutkan semua barang indah menjadi indah, Sokrates tidak menanyakan apa yang bersifat indah.

Happias menambahkan bahwa sendokpun bisa jadi indah, akan tetapi kita tidak dapat mengartikan sama cantiknya seperti benda dan gadis dara. Sokrates member bumbu kepada perkataan Happias: “memang Heraklatus pernah mengatakan bahwa kera yang tercantik, jika dibandingkan dengan orang maka ia masih jelek. Demikian juga dengan gadis cantik, bukan apa-apa kalau dibandingkan dengan bidadari dari sorga, sebagaimana orang yang paling arif bijaksana. 
apabila dibandingkan dengan Tuhan, tentu masih tanpak kera dalam segala hal. Akan tetapi kita kembali kepada: What the beautiful is. Walaupun catatan yang diberikan oleh sokrates tidak sistematis, estetika telah lahir ketika sokrates dapat menjawab pertanyaan Happias, dengan perkataan kecantikan bukanlah sifat tertentu dari seribu barang, tetapi dibelakang semua itu terdapat kecantikan itu tersendiri.

2. Estetika Plato
Plato adalah filusuf pertama didunia barat yang dalam seluruh karyanya mengemukakan pandangan yang meliputi hamper semua pokok semua estetika. Pembahasannya tidak utuh dan merupakan suatu system tersendiri, tetapi tersebar sebar dalam karyanya. Berikut ini kita mengumpulkan dan menyingkatkan pandangannya keindahan dan karya seni. 
a). Keindahan 
Plato berpendapat bahwa untuk mengetahui keindahan sesungguhnya, kita terlebih dahulu mengosongkan pikiran dan membersihkan diri dari segala kesalahan dan kekurangan. Kita harus membuang kesalahan dan dosa yang pernah terjadi dan mencoba kembali kedalam kesucian jiwa kita. 

Keindahan dapat dibagi menjadi dua yang pertama tentang dunia idea, dan kedua dunia yang nyata. Pandangan yang pertama, secara mengesankan dan dengan bahasa yang sangat indah, ia kemukakan dalam wawancara semposium sebagi pendirian Socrates. Socrates mengatakan bahwa ajaran itu diterima dari seorang dewata bernama Diotima yang berasal dari Mantineia (dalam terjemahan inggris nama dewata itu adalah “fear the lord from prophetveille”, sesuai dengan sindiran yang termuat dalam bahasa yunani). Menurut pandangan itu, yang indah adalah benda yang material, umpamanya tubuh manusia, yang tampak pada saya. Kalau selanjutnya saya melihat beberapa orang seperti itu, pengalaman akan keindahan meningkat. Lebih jauh lagi manusia merasa diajak untuk ingat pada yang lebih indah daripada tubuh, yaitu jiwa lama kelamaan, socrtaes mengajak pendengar untuk maju terus sampai pada idea yang indah. Itulah yang paling indah, sumber segala keindahan. Semua keindahan lain haknya ikut ambil pada yang indah dalam dunia idea itu, sama halnya seperti idea kebenaran, kebaikan, ataupun segitiga.

Pandangan plato yang pertama didasarkan pada ajaran tentang idea ini, yakni “teori dua dunia”. Dua dunia tersebut adalah ‘dunia idea’ (dunia atas) dan “dunia sehari-hari” (dunia bawah). Menurut plato dunia bawah merupakan tiruan dari dunia atas. Dunia atas digambarkan sebagai dunia idea, yaitu: dunia kebenaran absolute, sejati, dunia rohani, pengetahuan sejati (episteme). Sedangkan dunia bawah adalah dunia yang relative, sehari-hari, fana, kebenaran relative, tiruan, dan hanya merupakan ‘pendapat’. Pandangan kedua, dikemukakan plato dalam salah satu dialognya yang terkenal, yakni phiilebus. Disini dinyatakan bahwa yang indah dan sumber segala keindahan adalah yang paling sederhana. Yang dimaksud sederhana adalah bentuk dan ukuran yang tidak dapat diberi batasan yang lebih sederhana lagi. Pada pandangan pertama, yang indah itu dilepaskan dari pengalaman jasmani. Keindahan dalam pengertian hidup sehari-hari adalah tingkat dua saja. Keindahan sesungguhnya hanya ada di dunia idea, sedangkan pandanagn plato yang kedua, yang indah itu tidak dilepaskan dari pengalaman inderawi yang membangun pengalaman estetis dan keindahan dalam pengertian sehari-hari. 

Pandangan yang kedua ada dalam Philebus. Disana dinyatakan bahwa yang indah dan sumber segala keindahan adalah yang paling sederhana, umpamanya nada yang paling sederhana, warna yang sederhana. Yang dimaksud dengan ‘sederhana’ ialah bentuk dan ukuran yang tidak dapat diberi batasan lebih lanjut berdasarkan sesuatu yang lebih sederhana lagi. Oleh karena itu keindahan bersifat terpilah-pilah baik dalam alam maupun dalam karya seni.

Pandangan plato yang kedua ini mempunyai keistimewaan karena tidak melepaskan diri dari pengalaman inderawi yang merupakan unsure konstitutif dari pengalaman estetis dan keindahan dalam pengertian sehari-hari. 
1). Paradigma: dunia atas menjadi contoh, prototype, pola, bagi dunia bawah. 
2). Hadir pada: dunia atas selalu hadir pada (presence) dunia bawah. 
3). Partisipasi: dunia bawah mengambil bagian (berpartisipasi) di dunia atas

b). Karya Seni. 
Plato menyatakan sikapnya terhadap karya seni, terutama dalam karyanya yang terbesar yaitu politea (republik). Dalam penilaiannya ada dua unsur: yang satu teoritis dan kedua praktis. 
Unsur teoritis menyatakan bahwa: segala kenyataan yang ada di dunia ini merupakan tiruan (mimesis) dari yang asli yang terdapat di dunia idea dan jauh lebih unggul daripada kenyataan di dunia ini. Karya seni merupakan tiruan dari (mimesis memeseos). Oleh karena itu plato menilai rendah karya seni. Tafsiran plato tentang karya seni sebgai tiruan dari kenyataan yang ada di dunia ini tidak hanya jauh dari pandanagn karya seni dewasa ini, tetapi sudah pada jaman plato dan dalam karyanya sendiri mengalami kesulitan, mungkin karya seni rupa dan sebagian karya sastra, bisa ditafsirkan sebagai tiruan dari kenyataan, tetapi karya seni music amat sulit di tafsirkan.

Jadi menurut plato, karya seni adalah tiruan dari kenyataan yang ada di dunia ini (kecuali music), jadi jauh dari kebenaran sejati. Itulah sebabnya kemapa ia menyebut karya seni sebagai tiruan dari (mimesis memeseos). Plato memiliki dua kebertan terhadap karya seni. Pertama, karena karya seni menirukan sesuatu di dunia ini, yang sebenarnya sudah merupakan tiruan dari dunia idea. Jadi, karya seni adalah tiruan dari tiruan artinya tiruan dua tingkat. Itulah sebabnya mengapa menurut Plato, seni tidak baik untuk dijadikan sebagai sumber pengetahuan. 

Bagi plato, hanya filsafatlah yang pantas menjadi sumber pengetahuan, kebijakan dan moral. 

Keberatan plato terhadap seni terkait dengan pengaruh buruk seni terhadap masarakat. Seni memberi pengaruh bagi penonton dan masarakat. Mengapa? Karena, hakikat seni bersifat emosional. Plato menantang karya sastra dan drama, karena dalam drama banyak terdapat adegan adegan yang kurang baik dipertontonkan dan akan menjauhkan warga Negara dari tugasnya membangun Negara. Baginya, pusi itu prosesnya irasional dan kurang control terhadap akal, sehingga akan member pengaruh buruk pada penontonnya.

3. Estetika Aristoteles 
Sebagai murid plato, Aristoteles mengemukakan beberapa pandangan yang mirip dengan ajaran sang guru, tetapi sudut pandangnya berbeda. Mengapa? Karena Aristoteles menolak dunia idea Plato sebagai sumber pengetahuan. Sumbangan utama Aristoteles bagi estetika diuraikan dalam buku Poetika (poetics). 
a). Keindahan 
Pandangan Aristoteles tentang keindahan agak dekat dengan pandangan kedua dari plato: keindahan menyangkut keseimbangan dan keteraturan ukuran, yakni ukuran material. Pandangan ini, menurut Aristoteles menyangkut benda-benda alam maupun untuk karya seni buatan manusia

b). Karya Seni. 
Pandangan Aristoteles tentang ini mirip dengan Plato: karya seni adalah sebuah tiruan (imitasi), yakni tiruan dari dunia alamiah dan dunia manusia. Bagi Aristoteles, seni tidak hanya tiruan dari benda yang ada dari alam, tetapi lebih sebagai tieuan dari sesuatu yang universal. Aristoteles tidak setuju dengan penilaian negative Plato atas karya seni, karena dia berpendapat bahwa bentuk-bentuk (form) tidak terpisah dari dunia inderawi, karenanya dia tidak memiliki keberatan terhadap dunia inderawi dan seni yang meniru dunia inderawi. Maksud ini sudah jelas, karena pertam-tama minat aristoteles bukan seni rupa melainkan seni drama dan musik.

Aristoteles cukup panjang lebar memeriksa dan memerinci segala syarat yang harus dipenuhi agar suatu tragedi menjadi karya seni yang sempurna. Yang sangat diperhatikan adalah pandangan pokok Aristoteles yang mendasari syarat-syarat itu, yaitu pandangannya tentang “khatarsis” artinya pemurnian, yang diasalkan dari kata “khatarus” artinya murni atau bersih. Menurut Aristoteles, khatarsis adalah puncak dan tujuan karya seni drama dalam bentuk tragedi. Segala peristiwa, pertemuan, wawancara, keberhasilan, dan kegagalan serta kekecewaan harus di susun dan dipentaskan sedemikian rupa sehingga pada suatu saat secara serentak semuanya tampak logis, tetapi juga seolah-olah tak terduga. Pada saat itulah khatarsis terjadi secara tiba-tiba: seakan-akan segala masalah dan kejadian yang muncul bertimbun dalam peran-peran utama dan dalam diri penonton tiba-tiba pecah atau mencair, tak jarang in terjadi secara mengharukan.

Teori khatarsis Aristoteles ini sangat berpengaruh dalam filsafat seni, terutama dalam teori drama. Biasanya khatarsis diharapkan terjadi pada diri penonton dan kemudian dibawanya pulang sebagai pemahaman yang lebih mendalam tentang manusia, sebagai pembebasan batin sebagai pengalaman penderitaan. Dengan demikian, khatarsis ini memiliki makna “terapeutik”, bahkan sering sekali terdapat unsure penyesalan dan perubahan, semacam pencerahan atau pertobatan dalam pengalaman religius.
BAB III
KESIMPULAN

a.     Kesimpulan
Keindahan adalah sifat dari sesuatu yang memberi kita rasa senang bila melihatnya. Definisi keindahan tidak mesti sama dengan definisi seni, atau berarti seni tidak selalu dibatasi oleh keindahan. permasalahan seni ditentukan oleh reaksi pengamatan terhadap karya seni,. Perhatian terletak pada penganalisisan terhadap rasa seni, rasa indah, dan rasa keluhuran (keagungan). Sedangkan Estetika membahas tentang apa itu keindahan, menyelidiki prinsip-prinsip landasan seni dan pengalaman seni yakni penciptaan seni, penilaian atau refleksi atas karya seni.

b.    Saran
Saran kami tujukan kepada pembuat makalah berikutnya , kami sadar makalah kami belum sempurna tanpa kritik dan saran dari pembaca.






                                                  



DAFTAR PUSTAKA